Search

Showing posts with label Sejarah. Show all posts
Showing posts with label Sejarah. Show all posts

12 November 2016

ASEAN


1.   Latar belakang pembentukan ASEAN
a)   Faktor Intern, yakni setelah berakhirnya Perang Dunia II lahirlah negara-negara baru di Asia Tenggara. Munculnya negara-negara baru ini pada umumnya banyak memiliki persamaan masalah, oleh karena itu perlu sikap dan tindakan bersama untuk mewujudkan stabilitas dan keamanan kawasan ini melalui ASEAN.
b)   Faktor Ekstern, yakni akibat krisis Indocina yang ditimbulkan oleh gerakan komunis yang berusaha menguasai seluruh Vietnam, Laos dan Kamboja sebagai negara komunis, maka negara-negara tetangga di kawasan ini merasa khawatir dan bersepakat menghadapi ancaman ini dengan membentuk ASEAN.
2.   Pembentukan ASEAN
Di Asia Tenggara ada dua organisasi yang membawa pada pembentukan ASEAN. Pertama, Association of Southeast Asia (ASA) yang dibentuk berdasarkan Deklarasi Bangkok tahun 1961 antara Malaysia, Muang Thai, dan Filipina. Kedua, MAPHILINDO yang dibentuk pada tahun 1963, merupakan musyawarah antara negara Malaysia, Filipina, dan Indonesia. Karena adanya “Krisis Federasi Malaysia” yang kurang memuaskan Indonesia dan Malaysia, maka diawali dengan ajakan Thanat Khoman dari Muang Thai (Thailand) kepada Tun Abdul Razak dari Malaysia maupun Adam Malik dari Indonesia pada bulan Mei 1967 maka terbentuklah Deklarasi ASEAN.
Deklarasi ASEAN ditandatangani di Bangkok, Thailand pada tanggal 8 Agustus 1967. Deklarasi Bangkok ditandatangani oleh lima Menteri Luar Negeri, yaitu: Indonesia (Adam Malik), Malaysia (Tun Abdul Razak), Singapura (S. Rajaratnam), Muangthai (Thanat Khoman), Filipina (Narsisco Ramos).
3.   Struktur organisasi ASEAN
a)   Sebelum KTT I Bali 1976
1)   Annual Ministreal Meeting (AMM), merupakan sidang tertinggi yang dihadiri oleh para menteri luar negeri.
2)   Standing Committee bertanggung jawab terhadap jalannya organisasi serta mempersiapkan AMM berikutnya. Tugasnya merekomendasi dan melaksanakan program yang telah disepakati dalam AMM.
3)   Komisi-komisi tetap (permanent committee) dengan tugas merekomendasi rencana program ASEAN dan melaksanakannya.
4)   Komisi khusus tugasnya mengoordinasi tanggapan nasional terhadap hasil yang telah dicapai ASEAN dan menyiapkan agenda pertemuan Standing Committee.
b)   Sesudah KTT I Bali 1976
1)   Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) merupakan instansi tertinggi dalam ASEAN, disusul AMM dilengkapi pertemuan Menteri Ekonomi lainnya, sehingga susunannya menjadi:
a)   Summit Meeting (pertemuan kepala negara)
b)   Annual Ministreal Meeting (AMM)
c)   Standing Committee
d)  Komisi Tetap (Permanent Committee)
e)   Komisi Khusus
f)   Sekretaris Nasional ASEAN
2)   Dibentuk Sekretariat ASEAN yang dipimpin Sekretaris Jenderal ASEAN yang berkedudukan di Jakarta dan dijabat secara bergilir dengan masa jabatan dua tahun. Sebagai Sekjen ASEAN pertama ditetapkan Letjen H.R. Dharsono dari Indonesia yang diangkat pada tanggal 7 Juni 1976.
4.   Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN
a)   Konferensi ASEAN yang resmi:
1)   KTT ASEAN I, (23-24 Februari 1976 di Denpasar, Indonesia).
2)   KTT ASEAN II, (4-5 Agustus 1977 di Kuala Lumpur, Malaysia).
3)   KTT ASEAN III, (14-15 Desember 1987 di Manila, Filipina).
4)   KTT ASEAN IV, (27-28 Januari 1992 di Singapura).
5)   KTT ASEAN V, (14-15 Desember 1995 di Bangkok, Thailand).
6)   KTT ASEAN VI, (15-16 Desember 1998 di Hanoi, Vietnam).
7)   KTT ASEAN VII, (5-6 November 2001 di Bandar Seri Begawan, Brunei).
8)   KTT ASEAN VIII, (4-5 November 2002 di Kamboja).
9)   KTT ASEAN IX, (7-8 Oktober 2003 di Bali, Indonesia).
10) KTT ASEAN X, (29-30 November 2004 di Vientiane, Laos).
11) KTT ASEAN XI, (12-14 Desember 2005 di Kuala Lumpur, Malaysia).
12) KTT ASEAN XII, (11-14 Januari 2007 di Cebu, Filipina).
13) KTT ASEAN XIII, (18-22 November 2007 di Singapura).
14) KTT ASEAN XIV, (27 Februari-1 Maret 2009 di Hua Hin, Thailand).
15) KTT ASEAN XV, (23 Oktober 2009 di Hua Hin, Thailand).
16) KTT ASEAN XVI, (8-9 April 2010 di Hanoi, Vietnam).
17) KTT ASEAN XVII, (28-30 Oktober 2010 di Hanoi, Vietnam).
18) KTT ASEAN XVIII, (4-8 Mei 2011 di Jakarta, Indonesia).
19) KTT ASEAN XIX, (17-19 November 2011 di Bali, Indonesia).
20) KTT ASEAN XX, (3-4 April 2012 di Phnom Penh, Kamboja).
21) KTT ASEAN XXI, (17-20 November 2012 di Phnom Penh, Kamboja).
22) KTT ASEAN XXII (24-25 April 2013 di Bandar Seri Begawan, Brunei Darussalam)
23) KTT ASEAN XXIII (9-10 Oktober 2013 di Bandar Seri Begawan, Brunei Darussalam)
24) KTT ASEAN XXIV (10-11 Mei 2014 di Nay Pyi Taw, Myanmar)
25) KTT ASEAN XXV (11-13 November 2014 di Nay Pyi Taw, Myanmar)
26) KTT ASEAN XXVI (26-28 April 2015 di Kuala Lumpur dan Langkawi, Malaysia)
27) KTT ASEAN XXVII (18-22 November 2015 di Kuala Lumpur, Malaysia)
28) KTT ASEAN XXVIII dan XXIX (6-8 September 2016 di Vientiane, Laos)
 b)  Konferensi yang tidak resmi
1)   KTT ke-1, pada tanggal 30 November 1996 di Jakarta (Indonesia).
2)   KTT ke-2 pada tanggal 14-16 Desember 1997 di Kuala Lumpur (Malaysia).
3)   KTT ke-3, pada tanggal 27-28 November 1999 di Manila (Filipina).
4)   KTT ke-4, pada tanggal 22-25 November 2000 di Singapura.
5.   Anggota ASEAN
a)   Indonesia        (8 Agustus 1967)       
b)   Malaysia          (8 Agustus 1967)       
c)   Filiphina          (8 Agustus 1967)       
d)   Singapura        (8 Agustus 1967)       
e)   Thailand          (8 Agustus 1967)       
f)   Brunei             (7 Januari 1984)
g)   Vietnam          (28 Juni 1995)
h)   Laos                (23 Juli 1997)
i)    Myanmar         (23 Juli 1997)
j)    Kamboja          (16 Desember 1998)
6.   Kerjasama ASEAN
a)   Kerjasama di bidang perdagangan sering disebut PTA (Preverence Trading Arrangement) artinya menentukan peraturan-peraturan khusus.
b)   Kerjasama di bidang keuangan diwujudkan dalam suatu persetujuan yang dinamakan ASA (ASEAN Swap Arrangement) yang ditandatangani oleh pejabat Bank Central kelima negara anggota ASEAN.
c)   Kerjasama di bidang industri  diwujudkan dengan mendirikan pabrik bersama negara-negara anggota ASEAN (Proyek Industri ASEAN), yaitu dengan mendirikan: Pabrik pupuk urea di Indonesia dan Malaysia; Pabrik abu soda di Muang Thai; Pabrik diesel di Singapura; Pabrik super fosfat di Filipina.
d)   Kerjasama di bidang kebudayaan, misalnya dengan mengadakan pagelaran sesama para seniman dan seniwati negara-negara ASEAN.
e)   Kerjasama di bidang perhubungan dan komunikasi, misalnya: Pemakaian Satelit Palapa bersama; Pembangunan kabel telepon di bawah laut antara Filipina-Singapura (Kabel Philsin).
7.   Peranan Indonesia dalam ASEAN
a)   Salah satu negara pencetus ASEAN.
b)   Sebagai negara penyelenggara KTT 1 (Denpasar, 23-24 Februari 1976).
c)   Indonesia menyediakan Pulau Riau sebagai pusat karantina hewan dan tanaman bagi ASEAN.
d)   Membantu memperlancar komunikasi antarnegara ASEAN dengan Satelit Palapa milik Indonesia.
e)   Memainkan peran yang aktif dalam penyelesaian masalah di Kamboja. Indonesia menyelenggarakan Jakarta Informal Meeting (JIM) tahun 1988. Pertemuan ini dilanjutkan dengan Konferensi Internasional di Paris tahun 1989 yang diketuai bersama antara Prancis dan Indonesia (diwakili Ali Alatas).
f)   Pada tanggal 7 Juni 1976, Sekretariat Tetap ASEAN ditetapkan di Jakarta dan sekaligus ditunjuk sebagai Sekretaris Jenderal Pertama adalah Letjen. H.R. Dharsono yang kemudian digantikan oleh Umarjadi Njotowijono.

Gerakan Non Blok (GNB)


1.   Latar belakang lahirnya GNB
Berakhir Perang Dunia II terbentuk 2 blok, yaitu Blok Barat dipimpin Amerika Serikat yang beridiologi liberal, sedang blok Timur dipimpin Uni Soviet yang beridiologi komunis. Kedua blok tersebut saling bersaing untuk menanamkan pengaruhnya di dunia, sehingga terjadi kekhawatiran dari Negara lain bila Amerika Serikat dan Uni Soviet melakukan perang nuklir.
Berikut beberapa hal yang mendorong terbentuknya GNB: Terjadinya perang dingin antara Blok Barat dan Blok Timur yang dikendalikan oleh dua negara adidaya, yaitu Amerika Serikat dan Uni Soviet; Adanya kecemasan negara-negara yang baru merdeka akibat pertentangan antara kedua negara adidaya tersebut; Didorong oleh semangat KAA di Bandung pada tahun 1955; Terbentuknya Dokumen Brioni (pertemuan di Brioni, Yugoslavia); Dibangunnya Tembok Berlin yang mempertajam ketegangan dunia; Terjadinya Krisis Kuba (Uni Soviet membangun pangkalan rudal di Kuba yang dianggap mengancam keamanan Negara Amerika Serikat).
2.   Pembentukan Gerakan Nonblok
GNB disebut gerakan Non Aligned Movement (tidak memihak/netral) antara Blok Barat dengan Blok Timur. Yang memprakarsai berdirinya GNB diantaranya: Indonesia (Presiden Soekarno), Mesir (Presiden Gamal Abdul Nasser), Yugoslavia (Presiden Yoseph Broz Tito), Ghana (PM Kwame Nkrumah), India (PM Shri Pandit Jawarhalal Nehru).
3.   Kegiatan-kegiatan GNB
a)   Bidang politik dan perdamaian dunia, yaitu mengupayakan penyelesaian perselisihan antarnegara dengan cara-cara damai.
b)   Bidang ekonomi, yaitu memperjuangkan terwujudnya “Tata Ekonomi Dunia Baru” melalui berbagai langkah, antara lain sebagai berikut:
-     Dialog Utara-Selatan, yaitu pertemuan negara maju dengan negara berkembang untuk membicarakan kerjasama saling menguntungkan.
-     Kelompok 77, yaitu konferensi yang dilakukan oleh 7 negara maju atau negara industri dengan 7 negara untuk membicarakan kerjasama saling menguntungkan.
-     Negosiasi global, yaitu kerjasama yang sifatnya tidak terikat dengan negara tertentu, sifatnya global (menyeluruh/umum) dengan prinsip saling menguntungkan.
-     Kerjasama Selatan-Selatan, yaitu kerjasama dengan sesama negara berkembang untuk mengurangi ketergantungan-ketergantungan terhadap negara maju.
Berdasarkan langkah-langkah ini diharapkan “Tata Ekonomi Dunia Baru” cepat terwujud. Tata Ekonomi Dunia Baru, yaitu tata ekonomi yang tidak lagi dikendalikan/didominasi oleh negara-negara maju.
4.   Konferensi Tingkat Tinggi GNB
a)   KTT GNB I, di Beograd (Yugoslavia) pada tanggal 1-6 September 1961. Hasil konferensi yaitu membahas tentang upaya penghentian praktik imperialisme dan kolonialisme, mencegah percobaan senjata nuklir, serta mendamaikan blok Barat dan blok Timur.
b)   KTT GNB II, di Kairo (Mesir) pada tanggal 5-10 Oktober 1964. Hasil konferensi yaitu membahas tentang usaha perdamaian dunia dan kerjasama ekonomi.
c)   KTT GNB III, di Luzaka (Zambia) pada tanggal 8-10 September 1970. Hasil konferensi yaitu membahas tentang usaha perdamaian dunia, peningkatan kesejahteraan, dan kemakmuran negara-negara berkembang.
d)   KTT GNB IV, di Algiers (Aljazair) pada tanggal 5-9 September 1973. Hasil konferensi yaitu membahas usaha peningkatan kerjasama dan saling pengertian antarnegara berkembang, serta meredakan ketegangan di Timur Tengah, pergolakan di Rhodesia, dan diskriminasi ras di Afrika Selatan.
e)   KTT GNB V, di Colombo (Sri Lanka) pada tanggal 16-19 September 1976. Hasil konferensi yaitu membahas tentang usaha menghindari ancaman perang nuklir, serta memperkokoh persatuan dan kesatuan antarnegara berkembang.
f)   KTT GNB VI, di Havana (Kuba) pada tanggal 3-9 September 1979. Hasil konferensi yaitu membahas tentang usaha mewujudkan tatanan ekonomi dunia baru untuk negara berkembang dan mengusulkan negosiasi global untuk membentuk kerjasama yang bersifat global.
g)   KTT GNB VII, di New Delhi (India) pada tanggal 7-12 Maret 1983. Hasil konferensi yaitu menghasilkan “The New Delhi Message” yang berisi dukungan terhadap perjuangan rakyat Palestina dan Namibia, serta usaha memecahkan krisis ekonomi dunia dengan membentuk “Tatanan Ekonomi Dunia Baru”.
h)   KTT GNB VIII, di Harare (Zimbabwe) pada tanggal 1-6 September 1986. Hasil konferensi yaitu membahas tentang usaha mengakhiri pertikaian antara Irak dan Iran.
i)    KTT GNB IX, di Beograd (Yugoslavia) pada tanggal 4-7 September 1989. Hasil konferensi yaitu membahas tentang usaha memperjuangkan kerjasama dan dialog antarnegara Selatan.
j)    KTT GNB X, di Jakarta (Indonesia) pada tanggal 1-6 September 1992. Hasil konferensi yaitu menghasilkan Jakarta Message atau Pesan Jakarta yang berisi tentang pembahasan masalah kependudukan, penyelesaian utang luar negeri, pembentukan cadangan pangan bersama, peningkatan kerjasama negara Utara-Selatan, maupun antarnegara Selatan.
k)   KTT GNB XI, di Cartagena (Kolombia) pada tanggal 16-22 Oktober 1995. Hasil konferensi yaitu membahas tentang usaha penataan kembali dan demokrasi di forum PBB.
l)    KTT GNB XII, di Durban (Afrika Selatan) pada tanggal 1-6 September 1998. Hasil konferensi yaitu membahas tentang usaha demokratisasi dalam hubungan antarnegara di seluruh dunia.
m)  KTT GNB XIII, di Kuala Lumpur (Malaysia) pada tanggal 20-25 Februari 2003. Hasil konferensi yaitu membahas tentang revitalisasi GNB dan usaha meredakan Perang Teluk III.
n)   KTT GNB XIV, di Havana (Kuba) pada tanggal 1-6 September 2006. Hasil konferensi yaitu menghasilkan deklarasi yang mengutuk serangan Israel atas Lebanon, mendukung program nuklir Iran, mengritik kebijakan negara Amerika Serikat, dan menyerukan kepada PBB agar lebih berpihak kepada negara kecil dan berkembang.
o)   KTT GNB XV, di Sharm El-Sheikh, Mesir tanggal 11-16 Juli 2009. Menghasilkan sebuah Final Document yang merupakan sikap, pandangan dan posisi GNB tentang semua isu dan permasalahan internasional dewasa ini. KTT ke-15 GNB menegaskan perhatian GNB atas krisis ekonomi dan moneter global, perlunya komunitas internasional kembali pada komitmen menjunjung prinsip-prinsip pada Piagam PBB, hukum internasional, peningkatan kerja sama antara negara maju dan berkembang untuk mengatasi berbagai krisis saat ini.
p)   KTT GNB XVI, di Teheran (Iran), pada tanggal 26-31 Agustus 2012. Merumuskan pernyataan dukungan untuk Palestina . Deklarasi itu menegaskan hak-hak sah rakyat Palestina, kemerdekaan Palestina dengan Jerusalem sebagai ibu kotanya, dan hak pengungsi untuk kembali. KTT juga mendukung upaya-upaya untuk mencapai rekonsiliasi Palestina berdasar kesepakatan Kairo dan Doha, serta solidaritas terhadap tawanan Palestina.
q)   KTT GNB XVII, di Karakas Venezuela pada 17 - 18 September 2016.
5.   Peran Indonesia dalam GNB
a)   Indonesia berperan sebagai pelopor berdirinya GNB. Sejak dalam gagasan pembentukan GNB, Indonesia sudah berperan penting. Bersama Jawaharlal Nehru yang juga pelopor KAA, Presiden Soekarno menggagas pembentukan GNB. Akhirnya bersama empat pemimpin negara India, Ghana, Yugoslavia, dan Mesir, Indonesia mendeklarasikan berdirinya GNB. Indonesia juga aktif dalam persiapan penyelenggaraan KTT GNB di Beograd.
b)   Dalam KTT GNB X tahun 1992, Indonesia berperan sebagai tuan rumah penyelenggaraan KTT dan Presiden Soeharto bertindak sebagai ketua GNB.
c)   Indonesia memprakarsai kerjasama teknis di beberapa bidang misalnya bidang pertanian dan kependudukan.
d)   Indonesia mencetuskan upaya menghidupkan kembali dialog Utara-Selatan.

Konferensi Asia-Afrika (KAA)


1.   Latar belakang pembentukan Konferensi Asia-Afrika
a)   Bangsa-bangsa Asia-Afrika memiliki persamaan nasib dan sejarah yakni sama-sama menjadi sasaran penjajahan bangsa-bangsa Eropa.
b)   Semakin meningkatnya kesadaran bangsa-bangsa Asia-Afrika yang masih terjajah untuk memperoleh kemerdekaan.
c)   Perubahan politik yang terjadi setelah Perang Dunia II berakhir yakni situasi internasional diliputi kecemasan akibat adanya perlombaan senjata antara Blok Barat dan Blok Timur.
d)   Di antara bangsa-bangsa Asia yang telah merdeka masih belum terdapat kesadaran untuk bersatu, yang kemudian Rusia dan Amerika Serikat ikut melibatkan diri dalam masalah tersebut.
2.   Proses Terselenggaranya Konferensi Asia-Afrika (KAA)
a)   Konferensi Colombo (Konferensi Pancanegara I)
Konferensi Colombo dilaksanakan pada tanggal 28 April-2 Mei 1945 di Colombo, Sri Langka. Perwakilan yang hadir dalam konferensi ini yaitu Indonesia (Perdana Menteri Ali Sastroamidjoyo), India (Perdana Menteri Shri Pandit Jawarhalal Nehru), Pakistan (Perdana Menteri Mohammad Ali Jinnah), Birma/Myanmar (Perdana Menteri Unu), Srilangka (Perdana Menteri Sir John Kotelawala).
Keputusan yang dihasilkan dari Konferensi Colombo yaitu: Indocina harus dimerdekakan dari penjajahan Perancis; Menuntut kemerdekaan bagi Tunisia dan Maroko; Menyetujui dan mengusahakan adanya konferensi Asia-Afrika dan memilih Indonesia sebagai penyelenggara.
b)   Konferensi Bogor (Konferensi Pancanegara II)
Konferensi Bogor dilaksanakan pada tanggal 28-31 Desember 1954 di Bogor, Indonesia. Konferensi ini sebagai tindak lanjut dari Konferensi Colombo. Dalam konferensi ini dihadiri oleh negara-negara yang hadir dalam Konferensi Colombo.
Keputusan yang berhasil disusun dari Konferensi Bogor yaitu: Mengadakan Konferensi Asia-Afrika di Bandung dalam pada tanggal 18-24 April 1955; Menetapkan kelima negara peserta konferensi Bogor sebagai negara-negara sponsor; Menetapkan dua puluh lima negara-negara Asia-Afrika yang akan diundang; Menentukan tujuan konferensi Asia-Afrika.
c)   Pelaksanaan Konferensi Asia-Afrika
Konferensi Asia Afrika dilaksanakan pada tanggal 18-24 April 1955 di Gedung Merdeka, Kota Bandung yang dibuka oleh Presiden Soekarno. Dalam pelaksanaan dibentuk susunan kepanitiaan konferensi yaitu: Ketua (Mr. Ali Sastroamidjojo), Sekretaris Jenderal (Ruslan Abdulgani), Ketua Komite Kebudayaan (Mr. Moh. Yamin), Ketua Komite Ekonomi (Prof. Dr. Ir. Roeseno).
Dalam konferensi ini dihadiri oleh 29 negara yaitu 5 negara sponsor (Indonesia, India, Srilanka, Pakistan, Burma (Myanmar), 18 negara Asia (Filipina, Thailand, Vietnam Utara, Vietnam Selatan, Laos, Turki, Jepang, Yordania, Kamboja, Nepal, Lebanon, RRC, Afghanistan, Iran, Irak, Syria, Saudi Arabia, dan Yaman), dan 6 negara Afrika (Mesir, Sudan, Ethiopia, Libya, Liberia, dan Ghana).
Hambatan yang dialami selama konferensi diantaranya: Adanya perbedaan pandangan politik yaitu yang pro liberalis (Filipina, Muangthai, Pakistan, Iran, Turki, dan Jepang), sedang yang pro komunis (RRC dan Vietnam Utara); Adanya negara yang tidak memihak blok barat maupun blok timur (Indonesia, India, Sri Lanka, Burma, Mesir, dan Irak); Adanya negara yang belum menampakkan pandangan politiknya karena lebih mengutamakan persamaan dan solidaritas.
3.   Keputusan yang dihasilkan dalam Konferensi Asia-Afrika
a)   Memajukan kerjasama bangsa Asia-Afrika di bidang sosial, ekonomi dan kebudayaan.
b)   Membantu perjuangan menentang imperalisme (Aljazair, Tunisia, Maroko) dan mendukung tuntutan Indonesia atas Irian Barat, dan tuntutan Yaman atas Aden.
c)   Menjunjung HAM seperti tercantum dalam piagam PBB.
d)   Ikut aktif dalam perdamaian dunia.
e)   Mengakui hak bangsa Arab di Palestina dan penyelesaian masalah tersebut dengan damai.
f)   Agar negara-negara yang memenuhi syarat dapat diterima menjadi anggota PBB (Jepang, Sri Lanka, Kamboja, Laos, Vietnam Utara/Vietnam Selatan, dan Nepal).
g)   Adanya pengurangan senjata.
h)   Agar diadakan larangan (pembuatan, percobaan, dan penggunaan senjata atom).
i)    Disetujuinya prinsip-prinsip hubungan internasional dalam rangka perdamaian dunia. Dikenal dengan Dasa Sila Bandung (Declaration Bandung) yang dicantumkan dalam Declaration on The Promotion of World Peace and Cooperation. Adapun isi dari Dasa Sila Bandung adalah: Menghormati hak dasar manusia (piagam PBB); Menghormati kedaulatan semua bangsa; Mengakui persamaan ras dan persamaan bangsa; Tidak intervensi (campur tangan) kepada negara lain; Menghormati hak setiap bangsa untuk mempertahankan diri; Tidak melakukan tindakan/ancaman agresi atas kemerdekaan politik; Menyelesaikan segala perselisihan dengan jalan damai; Menghormati hukum dan kewajiban internasional.
4.   Peran Indonesia dalam KAA
a)   Indonesia ikut memprakarsai dan sebagai tempat penyelenggaraan Konferensi Pancanegara II yang berlangsung tanggal 28-31 Desember 1954 di Bogor (Jawa Barat). Konferensi ini sebagai pendahuluan dari Konferensi Asia Afrika.
b)   Indonesia ikut memprakarsai dan sebagai tempat penyelenggaraan Konferensi Asia-Afrika yang berlangsung pada tanggal 18-24 April 1955 di Gedung Merdeka Bandung.

Peran Serta Indonesia Dalam Kegiatan PBB

Indonesia menjadi anggota PBB pada tanggal 28 September 1950. Akan tetapi pada tanggal 1 Januari 1965, Indonesia keluar dari anggota PBB sebagai protes diterimanya Malaysia sebagai anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB. Pada masa Orde Baru, Indonesia kembali menjadi anggota PBB pada tanggal 28 September 1966.
a)   Bantuan PBB kepada Indonesia diantaranya:
1)   PBB membentuk Komisi Tiga Negara (KTN) yang bertugas mengawasi perundingan antara Indonesia-Belanda dalam Perundingan Renville.
2)   Penyelesaian sengketa Indonesia dengan Belanda dilakukan melalui UNCI (United Nations Commisioner on Indonesia) pada tahun 1949.
3)   Penyelesaian sengketa Irian Barat antara Indonesia-Belanda melalui pemerintahan sementara yang dikenal dengan sebutan UNTEA (United Nations Temporary Excecutive Sushocity) sebelum Irian Barat berada di bawah NKRI pada tahun 1963.
b)   Peran aktif Indonesia dalam PBB diantaranya:
1)   Konga I dikirim pada 8 Januari 1957 ke Mesir.
2)   Konga II dikirim ke Kongo dari September 1960 hingga Mei 1961.
3)   Konga III dikirim ke Provinsi Katanga (Zaire), Desember 1963-Agustus 1964.
4)   Konga IV dikirim ke Vietnam pada tanggal 23 Januari 1973.
5)   Konga V dikirim ke Vietnam Selatan, Januari-Agustus1974.
6)   Konga VI dikirim ke Timur Tengah, Desember 1973-1974.
7)   Konga VII dikirim ke Vietnam Selatan, April 1974.
8)   Konga VIII dikirim ke Gurun Sinai, September 1974 dan Oktober 1979.
9)   Konga VIII/1 dikirim ke Timur Tengah pada 1974; Konga VIII/2 dikirim ke Timur Tengah pada 1975; Konga VIII/3 dikirim ke Timur Tengah pada 1976; Konga VIII/4 dikirim ke Timur Tengah pada 1976; Konga VIII/5 dikirim ke Timur Tengah pada 1977; Konga VIII/6 dikirim ke Timur Tengah pada 1977; Konga VIII/7 dikirim ke Timur Tengah pada 1978; Konga VIII/8 dikirim ke Timur Tengah pada 1978; Konga VIII/9 dikirim ke Timur Tengah pada 1979.
10) Konga IX/1 dikirim ke Iran-Irak pada 1988; Konga IX/2 dikirim ke Iran-Irak pada 1989; Konga IX/3 dikirim ke Iran-Irak pada 1990.
11) Konga X dikirim ke Namibia pada 1989.
12) Konga XI/1 dan Konga XI/2 dikirim ke Irak-Kuwait pada 1992; Konga XI/3 dikirim ke Irak-Kuwait pada 1993; Konga XI/4 dikirim ke Irak-Kuwait pada 1994; Konga XI/5 dikirim ke Irak-Kuwait pada 1995.
13) Konga XII/A dan Konga XII/B dikirim ke Kamboja pada 1992; Konga XII/C dan Konga XII/D dikirim ke Kamboja pada 1993.
14) Konga XII dikirim ke Kamboja pada 1992.
15) Konga XIII dikirim ke Somalia pada 1992.
16) Konga XIV/1 dikirim ke Bosnia-Herzegovina pada 1993; Konga XIV/2, Konga XIV/3, Konga XIV/4, Konga XIV/A, Konga XIV/B dikirim ke Bosnia pada 1992; Konga XIV/C dikirim ke Bosnia pada 1995.
17) Konga XV dikirim ke Georgia pada 1994.
18) Konga XVI dikirim ke Mozambik pada 1994.
19) Konga XVII dikirim ke Filipina pada 1994.
20) Konga XVIII dikirim ke Tajikistan pada November 1997.
21) Konga XIX/1, Konga XIX/2, Konga XIX/3, Konga XIX/4 dikirim ke Sierra Leone pada 1999-2002.
22) Konga XX/A dikirim ke Bungo, Kongo pada 6 September 2003.
23) Konga XX/B bertugas di Republik Demokratik Kongo.
24) Konga XX/C dikirim ke Republik Demokratik Kongo pada 28 September 2005.
25) Konga XXI-1 bertugas di Liberia tahun 2003-2004; Konga XXI-2 bertugas di Liberia tahun 2004-2005; Konga XXI-3 bertugas di Liberia tahun 2005-2006; Konga XXI-4 bertugas di Liberia tahun 2006-2007; Konga XXI-5 bertugas di Liberia tahun 2007-2008.
26) Konga XXII dikirim ke Sudan.
27) Konga XXIII/B bertugas di Lebanon Selatan tahun 2007-2008; Konga XXIII/C bertugas di Lebanon Selatan tahun 2008-2009 di bawah UNIFIL; Konga XXIII/D bertugas di Lebanon Selatan tahun 2009-2010 di bawah UNIFIL; Konga XXIII/E bertugas di Lebanon Selatan tahun 2010-2011 di bawah UNIFIL.
28) Konga XXIV-1 bertugas di Nepal tahun 2007-2008; Konga XXIV-2 bertugas di Nepal tahun 2008-2009; Konga XXIV-3 bertugas di Nepal tahun 2009-2010; Konga XXIV-4 bertugas di Nepal dari 28 Agustus 2010 sampai 15 Januari 2011.
29) Konga XXV dikirim pada 30 Oktober 2008, di Lebanon Selatan.
30) Konga XXVI-D1 bertugas di Lebanon mulai tanggal 22 November 2011 sampai dengan 25 November 2012.
31) Konga XXVII - 1 tergabung dalam misi UNAMID di Darfur bertugas sejak tanggal 21 Agustus 2008 sampai dengan tanggal 21 Agustus 2009.
32) Konga XXVII - 2 tergabung dalam misi UNAMID di Darfur bertugas sejak tanggal 8 Oktober 2010 sampai dengan tanggal 8 Oktober 2011.
33) Konga XXVII - 3 tergabung dalam misi UNAMID di Darfur bertugas sejak tanggal 14 Februari 2011 sampai dengan tanggal 14 Februari 2012.