Search

10 June 2013

Peta


1. Pengertian Peta

Peta adalah gambaran permukaan bumi dengan skala tertentu yang digambar pada bidang datar melalui sistem proyeksi (cara pemindahan data topografi dari permukaan bumi ke bidang datar/peta) tertentu.

Sedang pengertian peta menurut ICA (International Cartographic Association, 1973) adalah gambaran unsur-unsur kenampakkan abstrak, yang dipilih dari permukaan bumi atau yang ada kaitannya dengan permukaan bumi atau benda-benda angkasa dan umumnya digambarkan pada suatu bidang datar dan diperkecil/diskalakan. Ilmu yang mempelajari tentang peta disebut kartografi. Dan ahli membuat peta disebut kartografer.

2. Syarat-syarat peta

Yang termasuk dalam syarat-syarat peta antara lain:

a. Konform, yaitu gambar peta harus sebangun dengan keadaan yang sebenarnya.

b. Equidistant, yaitu jarak di peta jika dikalikan dengan skalanya harus sama dengan jarak sebenarnya di lapangan atau daerah yang digambarkan.

c. Equivalent, yaitu luas daerah pada peta jika dikalikan dengan skalanya harus sesuai dengan luas daerah yang sebenarnya.

3. Jenis peta

Jenis peta dapat dibedakan berdasarkan :

a. obyek peta, berdasarkan sifat obyek peta dapat dibedakan menjadi :

1. Peta dinamis, yaitu peta yang menggambarkan sesuatu yang tidak tetap ataupun berubah-ubah. Misalnya peta populasi penduduk.

2. Peta statis, yaitu peta yang menggambarkan sesuatu yang tetap. Misalkan peta negara atau propinsi.

b. Isi peta, peta dibedakan sebagai berikut:

1. Peta umum (peta dasar),yaitu peta yang menggambarkan seluruh kenampakan di permukaan bumi, baik gunung, sungai, jalan dan lain sebagainya. Contoh: peta Indonesia. Peta umum dapat dibedakan sebagai berikut:
a. Peta dunia, yaitu peta yang berfungsi memberikan informasi letak dan bentuk wilayah setiap negara di dunia.
b. Peta korografi, yaitu peta yang memberikan gambaran seluruh atau sebagian permukaan bumi yang bercorak umum dan berskala kecil.
c. Peta topografi, yaitu peta yang memberikan gambaran tentang permukaan bumi dan reliefnya.
2. Peta khusus (peta tematik), yaitu peta yang hanya menggambarkan satu obyek atau satu jenis kenampakan di permukaan bumi saja. Contoh: Peta pertambangan Indonesia. Peta khusus yang menggambarkan data statistik atau datanya berupa angka-angka disebut peta statistik. Berdasarkan sifat data yang disajikan, peta statistik dibedakan menjadi dua, yaitu:
a. Peta statistik distribusi kualitatif, yaitu peta khusus yang menggambarkan penyebaran data statistik yang bersifat kualitatif, berbentuk pernyataan atau tulisan tanpa memperhitungkan jumlah atau quantumnya. Contoh: Peta hutan Indonesia
b. Peta statistik distribusi kuantitatif, yaitu peta khusus yang menggambarkan penyebaran data-data statistik yang berbentuk angka-angka. Contoh : peta kepadatan penduduk.
c. Bentuk peta, peta dibedakan menjadi :
1. Peta datar atau planimetri, yaitu peta yang dibuat pada bidang datar atau dua dimensi. Pada pembuatannya peta planimetri hanya menggunakan unsur panjang dan lebar saja. Perbedaan penampakan permukaan bumi biasanya digambarkan dengan perbedaan warna dan simbol.
2. Peta timbul (peta relief), yaitu peta yang dibuat sesuai dengan penampakan permukaan bumi, dengan menggunakan unsur panjang, lebar dan tinggi. Misalkan gunung dibuat tinggi dan lembah di buat lebih rendah yang bentuknya juga disesuaikan dengan keadaan sebenarnya.
3. Peta digital, yaitu peta yang disimpan dalam bentuk file atau film, yang tampilannya di layar komputer bisa berupa peta datar atau peta relief.
d. Skala peta, berdasarkan skalanya peta dibedakan menjadi :
1. Peta kadaster, mempunyai skala 1:100 sampai 1:<5.000. Peta dengan skala ini biasanya digunakan untuk pembuatan peta tanah dalam sertifikat.
2. Peta skala besar, mempunyai skala 1:5.000 sampai 1:<250.000. Biasanya digunakan dalam pembuatan peta kecamatan atau wilayah yang agak kecil lainnya.
3. Peta skala sedang, yang mempunyai skala 1:250.000 sampai 1:<500.000. Peta provinsi biasanya menggunakan peta dengan jenis ini.
4. Peta skala kecil, mempunyai skala 1:500.000 sampai 1:<1.000.000. Peta skala ini biasanya digunakan dalam pembuatan peta negara atau wilayah yang lebih luas lagi.
5. Peta geografi, yaitu peta dengan skala 1:1.000.000 ke atas.
4. Unsur-unsur peta
Unsur peta yaitu sesuatu yang harus ada atau tercantum pada peta agar dapat membaca dan menafsirkan sebuah peta. Unsur peta antara lain:
a. Judul, yang menggambarkan daerah atau negara mana yang ada dalam peta. Judul peta harus singkat dan jelas.
b. Skala, skala peta yaitu perbandingan jarak antara dua titik sembarang di peta dengan horisontal kedua titik di permukaan bumi. Skala peta dapat dinyatakan dengan beberapa cara yaitu :
1. Skala Angka (skala numerik), yaitu skala yang dinyatakan dengan angka pecahan, skala ini yang paling sering kita lihat dalam peta. Contoh: Skala 1:500.000, artinya 1cm dalam peta mewakili 500.000 cm di permukaan bumi.
2. Skala garis (skala grafis), yaitu skala yang dinyatakan dengan garis/grafik.

3. Skala huruf, yaitu skala yang dinyatakan dengan kalimat dan angka. Contoh: 1cm di peta sama dengan 10 km di permukaan bumi.
c. Orientasi, berfungsi sebagai penunjuk arah pada peta. Dalam peta biasanya digambarkan dengan anak panah yang mengarah ke utara.

d. Simbol, yaitu tanda yang dibuat untuk mewakili objek di permukan bumi. Secara umum, simbol peta dapat dibedakan menjadi 4 macam, yaitu:

1. Simbol titik; Simbol titik dibedakan menjadi tiga, yaitu:

a. Simbol geometrik, yaitu simbol yang menggunakan bangun matematika.

b. Simbol gambar, yaitu simbol berupa gambar dan biasanya disesuaikan dengan keadaan yang sebenarnya.

c. Simbol huruf, yaitu simbol yang menggambarkan objek atau kenampakan, disimbolkan dengan huruf.

Contoh: H : hutan D : danau

Su. : sungai GA : gunung berapi

2. Simbol garis, yaitu simbol yang menggambarkan objek dengan sebuah garis.
3. Simbol area (wilayah), yaitu simbol yang menggambarkan objek atau kenampakan dengan suatu area/luasan.

4. Simbol warna, yaitusuatu bentang alam/kenampakan yang dilambangkan dengan warna. Contoh: Warna biru (melambangkan perairan); Warna kuning (melambangkan dataran tinggi); Warna coklat (melambangkan pegunungan tinggi); Warna hijau (dataran rendah).

e. Grid peta (garis lintang dan garis bujur), yaitu garis khayal yang digunakan untuk mengetahui letak suatu tempat atau kedudukan geografisnya di permukaan bumi. Contoh: Kota Merauke terletak pada 8° LS dan 140° BT. Artinya Kota Merauke terletak pada 8° Lintang Selatan dan 140° Bujur Timur.

f. Legenda, yaitu keterangan yang menjelaskan arti simbol-simbol di dalam peta. Jadi legenda terletak di luar wilayah yang dipetakan.

g. Lettering, yaitu semua tulisan yang bermakna, yang ada dalam peta. Seperti nama sungai, kota, danau, gunung, dan sebagainya.

h. Inset, merupakan peta yang berukuran lebih kecil dari peta utama. Inset dapat dibedakan menjadi dua.

1. Inset yang berupa gambar lebih luas dari gambar utama. Inset jenis ini digunakan untuk menjelaskan letak daerah yang digambarkan terhadap wilayah di sekitarnya.

2. Inset dengan gambar yang lebih sempit yang digunakan untuk memperjelas bagian wilayah tertentu pada peta.

5. Manfaat Peta

Peta apa pun jenisnya, masing-masing mempunyai manfaat, antara lain:
a. Penunjuk arah, letak, luas, jarak, dan bentuk permukaan bumi
b. Alat informasi, informasi dapat diketahui melalui simbol-simbol dalam peta.
c. Alat pembelajaran, dalam hal ini peta dimasukkan dalam beberapa mata pelajaran seperti sejarah, geografi dan sebagainya.
d. Peta dapat digunakan untuk menjelaskan kondisi lingkungan suatu tempat. Dengan peta dapat diketahui suatu wilayah berada di daerah tropis, daerah kutub, atau daerah sedang.
e. Melalui peta tematik kita dapat memperoleh data. Misalnya melalui peta kita dapat mengetahui tentang kepadatan penduduk suatu daerah.
f. Melalui peta orang dapat memperkirakan kemungkinan usaha yang dilakukan. Dengan peta maka kita dapat mengetahui tentang suatu daerah oleh sebab itu kita dapat menentukan hal apa yang cocok untuk dikembangkan di daerah tersebut. Misalnya di daerah pegunungan, maka usaha yang cocok dikembangkan di daerah ini yaitu membuka usaha kebun buah atau bunga.
6. Mencari informasi geografi pada peta
Cara mencari informasi pada peta, yaitu:
a. Mencari informasi geografi pada peta dengan pertolongan garis lintang
Informasi geografi yang kita peroleh dengan pertolongan garis lintang adalah daerah iklim matahari. Berdasarkan pembagian iklim matahari, permukaan bumi terbagi atas 4 daerah iklim, yaitu:
- Iklim tropis terletak pada garis lintang 23½° LU - 23½° LS.
- Iklim subtropis terletak pada garis lintang 23½° LU - 40° LU dan 23½° LS - 40° LS.
- Iklim sedang terletak pada garis lintang 40° LU - 66½° LU dan 40° LS - 66½° LS.
- Iklim dingin terletak pada garis lintang 66½° LU - 90° LU dan 66½° LS - 90° LS.
b. Mencari informasi geografi pada peta dengan pertolongan garis bujur
Fungsi utama garis bujur adalah untuk menentukan daerah waktu. Garis bujur 0° melewati kota Greenwich (dekat London), Inggris. Jadi penghitungan penghitungan letak garis bujur dimulai dari kota Greenwich ini. Semakin ke arah timur (BT) dari Greenwich semakin bertambah waktunya, dan semakin ke arah barat (BB) dari Greenwich semakin berkurang waktunya. Ketentuan penambahan dan pengurang waktu, setiap 15° selisihnya 1 jam (60 menit).
c. Mencari informasi geografi pada peta dengan pertolongan garis bujur dan garis lintang
Fungsi garis lintang dan garis bujur secara bersama-sama adalah untuk menentukan letak suatu tempat di muka bumi. Lokasi/letak wilayah berada di titik pertemuan antara garis lintang dan garis bujur.
Informasi yang dapat diperoleh dari peta diantaranya:
a. Jarak
Untuk mengetahui jarak suatu tempat dengan tempat lainnya yang sebenarnya dapat diketahui dengan menggunakan skala peta. Contoh: Berapa jarak Kota P dan Kota Q yang sebenarnya jika jarak pada peta 7 cm dan skala peta 1:200.000
Skala 1:200.000 berarti 1 cm di peta = 200.000 cm (2 km) di lapangan. Berarti 7 cm di peta = 14 km di lapangan.
b. Arah
Hal ini dapat ditunjukkan dengan empat arah mata angin utama yaitu: utara, timur, selatan dan barat. Penentuan arah yang lebih rinci dapat menggunakan kompas atau busur derajat.
c. Lokasi
Menentukan lokasi suatu tempat terhadap tempat lainnya merupakan gabungan dari penentuan jarak dan arah.
d. Luas
Dengan menggunakan peta maka dapat menghitung luas suatu kenampakan, misalnya luas hutan, sawah, perkampungan, pulau dan lain-lain. Apabila kenampakan tersebut memiliki bentuk yang teratur, seperti segi empat, segitiga, trapesium, atau bujur sangkar, maka luas kenampakan itu mudah dihitung, yaitu menggunakan rumus-rumus matematika. Akan tetapi obyek di muka bumi seringkali tidak teratur. Pengukuran luas untuk bangun yang tidak teratur digunakan cara kisi atau kotak dan potongan garis (sistem grid).
7. Memperbesar dan memperkecil peta
a. Menggunakan garis koordinat, caranya:
- Buatlah garis vertikal dan garis horizontal pada peta asli dengan jarak yang diinginkan.
- Buatlah garis vertikal dan garis horizontal pada kertas tempat memindahkan peta. Contoh: kita ingin memperbesar peta 2 kali lipat. Jarak garis vertikal dan garis horizontal pada kertas harus 2 kali garis vertikal dan garis horizontal pada peta asli.

b. Mengubah skala, caranya:

Contoh: Pulau Jawa dengan skala 1:20.000.000, diubah menjadi peta berskala 1:10.000.000, maka lebar jaring-jaring peta akan berubah yang semula lebarnya 1 cm berubah menjadi 2 cm. Artinya, peta Pulau Jawa yang baru besarnya 2 kali lipat peta asli.

c. Menggunakan Pantograf

Pada prinsipnya, kerja pantograf berdasarkan bentuk jajaran genjang. Tiga dari empat sisi jajaran genjang mempunyai skala faktor yang sama. Skala pada ketiga sisi dapat diubah sesuai keinginan, yaitu diperbesar atau diperkecil. Pengubahan skala pada ketiga lengan tersebut menggunakan rumus sebagai berikut:



Keterangan:
      m = besar peta asli

M = besar peta yang akan dibuat

Contoh:

Suatu peta akan diperbesar 3 kali lipat. Diketahui m = 2; maka skala faktornya?






Oleh karena itu lengan pantograf diatur pada nilai 33,3. Setelah itu peta yang akan diperbesar diletakkan di tempat B dan kertas gambar kosong diletakkan di tempat gambar A yang dilengkapi dengan pensil. Selanjutnya, penggambaran dimulai dengan menggerakkan B mengikuti peta asli melalui kaca pengamat.

31 May 2013

Jenis-jenis batuan

Lapisan paling luar dari bumi adalah kerak bumi (litosfer). Lapisan ini terdiri dari batu-batuan yang bahan dasarnya dari pembekuan magma. Berdasarkan proses terjadinya, batuan-batuan tersebut dapat dikelompokkan menjadi:
1.  Batuan beku
Batuan beku adalah batuan yang terjadi dari magma yang membeku karena pendinginan. Menurut tempat membekunya, batuan beku dapat dibedakan menjadi:
a.  Batuan beku dalam/plutonik/abistik, yaitu batuan beku yang terbentuk di dapur magma. Teksturnya relatif kasar, karena lambatnya pembekuan yang terjadi. Misalnya: granit, diorite, gabro, sienit.
b.  Batuan korok/ponfiri, yaitu batuan beku yang terbentuk di celah-celah atau di dalam pipa gunung api (korok). Teksturnya agak halus, karena proses pendinginannya lebih cepat dari batuan beku dalam. Misalnya: profir granit, profir sienit, porfir diorit, porfir gabro.
c.  Batuan beku luar/lelehan, yaitu batuan beku yang terbentuk karena magma membeku di luar atau di permukaan bumi. Teksturnya relatif halus, karena pembekuan berlangsung lebih cepat dari batuan beku korok. Misalnya: batu apung, andesit, basalt, obsidian, riolit.
2.  Batuan sedimen/endapan
Batuan endapan, yaitu jenis batuan yang terbentuk dari batuan beku yang terkikis lalu mengalami proses pengangkutan dan diendapkan di tempat lain. Batuan sedimen dapat dibedakan berdasarkan kriteria proses pembentukan dan tenaga alam yang mengangkutnya.
a.  Berdasarkan proses pembentukannya, dibedakan menjadi:
1.  Batuan sedimen klasik, yaitu batuan sedimen yang hanya mengalami proses mekanik atau hanya diangkut dari tempat asalnya, kemudian diendapkan di tempat yang lain. Misalnya: batu pasir, batu konglomerat.
2.  Batuan sedimen kimia, yaitu batuan sedimen yang terbentuk karena proses pelarutan secara kimia. Misalnya: batu kapur.
3.  Batuan sedimen organik, yaitu batuan sedimen yang terbentuk dari sisa-sisa binatang atau tumbuhan yang mati. Misalnya: batu bara
b.  Berdasarkan tenaga pengangkutnya, dibedakan menjadi:
1.  Batuan sedimen aeolis yaitu hasil proses pengangkutan tenaga angin.
2.  Batuan sedimen akuatis yaitu hasil proses pengangkutan tenaga air.
3.  Batuan sedimen glasial yaitu hasil proses pengangkutan tenaga es.
4.  Batuan sedimen marine yaitu hasil proses pengangkutan tenaga air laut.
c.  Berdasarkan tempat pengendapannya, dibedakan menjadi:
1.  Batuan sedimen teritis, diendapkan di darat. Misalnya: tanah loss, tanah pasir.
2.  Batuan sedimen fluvial, diendapkan di sungai. Misalnya: batu pasir.
3.  Batuan sedimen limnis, diendapkan di rawa/danau. Misalnya: tanah gambut.
4.  Batuan sedimen marine, diendapkan di laut. Misalnya batu karang.
5.  Batuan sedimen glasial, diendapkan di daerah es. Misalnya: batu lim.
3.  Batuan malihan/metamorf
Batuan malihan adalah batuan yang terbentuk karena adanya penambahan suhu dan atau tekanan yang sangat tinggi. Batuan malihan dikelompokkan menjadi:
a.  Batuan malihan termik (kontak), terbentuk karena penambahan suhu yang tinggi dan perubahan secara kimia oleh intrusi magma panas. Misalnya: batu pualam.
b.  Batuan malihan dinamik (sintektonik), terbentuk karena penambahan tekanan yang tinggi yang biasanya karena gaya tektonik. Misalnya: batu bara dan batu sabak.
c.  Batuan malihan pneumatolitik, terbentuk karena adanya pencampuran unsur lain ke dalam batuan tersebut. Misalnya: batu kopas, turmalin (batu permata), azurit (mineral pembawa tembaga).

15 May 2013

Keragaman Bentuk Muka Bumi



Keragaman Bentuk Muka Bumi
Bentuk muka bumi tidaklah rata, karena ada yang berupa daratan tinggi, dataran rendah dan sebagainya. Tinggi rendahnya permukaan bumi disebut dengan relief bumi. Relief pada umumnya dibedakan menjadi:
1.  Relief daratan
a.  Pegunungan adalah kumpulan gunung-gunung yang memanjang dengan ketinggian 200 meter di atas permukaan laut. Pegunungan dibedakan menjadi pegunungan rendah ketinggiannya 200 – 500 m; pegunungan sedang ketinggiannya 500 – 1500 m; pegunungan tinggi ketinggiannya > 1500 m.
b. Gunung adalah bentuk muka bumi yang menonjol tinggi ke atas. Bagian dari gunung yaitu puncak (atas), lereng (tengah) dan kaki (bawah).
c.  Lereng adalah relief daratan yang letaknya miring. Lereng dibedakan menjadi lereng landai, kemiringannya < 45°; lereng curam, kemiringannya > 45°; lereng tegak, kemiringannya 90°.
d.  Perbukitan adalah relief daratan yang memanjang dengan ketinggian 200 – 300 m.
e.  Dataran tinggi (plato) adalah suatu daerah yang relatif datar dengan ketinggian kurang dari 400 m di atas permukaan laut.
f.  Dataran rendah adalah suatu daerah yang relatif datar dengan ketinggian 0 – 200 m di atas permukaan laut.
g.  Lembah adalah bentuk muka bumi yang cekung di kanan kiri kaki gunung.
h.  Depresi kontinental adalah permukaan bumi yang letaknya lebih rendah dari permukaan laut.
i.   Pematang adalah permukaan bumi yang berupa pegunungan/perbukitan yang saling berhubungan. Pematang yang memiliki puncak yang tajam disebut igir.
2.  Relief dasar laut
a.  Dangkalan/shelf/paparan benua adalah bagian laut yang dalamnya kurang dari 200 m.
b.  Ambang laut adalah pembatas pada dasar laut yang memisahkan dua laut dalam.
c.  Punggung laut adalah bukit di dasar laut yang tidak sampai menyembul ke permukaan laut. Punggung laut ini jika muncul di permukaan laut akan menjadi pulau.
d.  Gunung laut adalah gunung yang muncul di permukaan laut dan kakinya berada di dasar laut.
e.  Palung laut (trog) adalah dasar laut yang dalam, sempit, curam dan memanjang, karena retakan di dasar laut.
f.  Lubuk laut (bekken) adalah dasar laut yang berbentuk cekungan besar seperti mangkok dan mempunyai kedalaman ribuan meter.
g.  Pulau karang adalah pulau yang terdiri atas batu karang baik sebagian/seluruhnya. Batu karang terbentuk dari binatang karang yang telah mati dan bertumpuk-tumpuk.
3.  Pembagian wilayah Indonesia
a.  Daerah Dangkalan Sunda, merupakan bentuk muka bumi Indonesia bagian barat yang merupakan laut dangkal yang memiliki kedalaman kurang dari 200 m. Wilayah perairannya meliputi Laut Jawa, Laut Cina Selatan, Selat Malaka, Selat Sunda dan Selat Karimata. Sedang daratannya meliputi Pulau Sumatra, Jawa, Kalimantan, Kepulauan Riau, Lingga, Singkep, Bangka, Belitung, Anambas dan pulau-pulau disekitarnya.
b.  Daerah Dangkalan Sahul, merupakan bentuk muka bumi Indonesia bagian timur yang merupakan laut dangkal yang memiliki kedalaman kurang dari 200 m. Wilayah perairannya meliputi Laut Arafuru dan Selat Torres. Sedang daratannya meliputi Pulau Irian dan Kepulauan Aru.
c.  Daerah Laut-Tengah Austral Asiatik, merupakan bentuk muka bumi Indonesia bagian tengah antara Dangkalan Sunda dan Dangkalan Sahul yang memiliki kedalaman lebih dari 200 m. Wilayah perairannya meliputi Laut Sulawesi, Laut Maluku, Selat Makassar, Laut Banda, Laut Flores, Laut Buru, Laut Seram dan Laut Sawu. Sedang daratannya meliputi Pulau Sulawesi, Kepulauan Nusa Tenggara dan Kepulauan Maluku.
            Di antara Dangkalan Sunda dan Laut-Tengah Austral Asiatik dipisahkan oleh Garis Wallace, sedang di antara Dangkalan Sahul dan Laut-Tengah Austral Asiatik dipisahkan oleh Garis Webber.

Jenis-Jenis Batuan
Lapisan paling luar dari bumi adalah kerak bumi (litosfer). Lapisan ini terdiri dari batu-batuan yang bahan dasarnya dari pembekuan magma. Berdasarkan proses terjadinya, batuan-batuan tersebut dapat dikelompokkan menjadi:
1.  Batuan beku
Batuan beku adalah batuan yang terjadi dari magma yang membeku karena pendinginan. Menurut tempat membekunya, batuan beku dapat dibedakan menjadi:
a.  Batuan beku dalam/plutonik/abistik, yaitu batuan beku yang terbentuk di dapur magma. Teksturnya relatif kasar, karena lambatnya pembekuan yang terjadi. Misalnya: granit, diorite, gabro, sienit.
b.  Batuan korok/ponfiri, yaitu batuan beku yang terbentuk di celah-celah atau di dalam pipa gunung api (korok). Teksturnya agak halus, karena proses pendinginannya lebih cepat dari batuan beku dalam. Misalnya: profir granit, profir sienit, porfir diorit, porfir gabro.
c.  Batuan beku luar/lelehan, yaitu batuan beku yang terbentuk karena magma membeku di luar atau di permukaan bumi. Teksturnya relatif halus, karena pembekuan berlangsung lebih cepat dari batuan beku korok. Misalnya: batu apung, andesit, basalt, obsidian, riolit.
2.  Batuan sedimen/endapan
Batuan endapan, yaitu jenis batuan yang terbentuk dari batuan beku yang terkikis lalu mengalami proses pengangkutan dan diendapkan di tempat lain. Batuan sedimen dapat dibedakan berdasarkan kriteria proses pembentukan dan tenaga alam yang mengangkutnya.
a.  Berdasarkan proses pembentukannya, dibedakan menjadi:
1.  Batuan sedimen klasik, yaitu batuan sedimen yang hanya mengalami proses mekanik atau hanya diangkut dari tempat asalnya, kemudian diendapkan di tempat yang lain. Misalnya: batu pasir, batu konglomerat.
2.  Batuan sedimen kimia, yaitu batuan sedimen yang terbentuk karena proses pelarutan secara kimia. Misalnya: batu kapur.
3.  Batuan sedimen organik, yaitu batuan sedimen yang terbentuk dari sisa-sisa binatang atau tumbuhan yang mati. Misalnya: batu bara
b.  Berdasarkan tenaga pengangkutnya, dibedakan menjadi:
1.  Batuan sedimen aeolis yaitu hasil proses pengangkutan tenaga angin.
2.  Batuan sedimen akuatis yaitu hasil proses pengangkutan tenaga air.
3.  Batuan sedimen glasial yaitu hasil proses pengangkutan tenaga es.
4.  Batuan sedimen marine yaitu hasil proses pengangkutan tenaga air laut.
c.  Berdasarkan tempat pengendapannya, dibedakan menjadi:
1.  Batuan sedimen teritis, diendapkan di darat. Misalnya: tanah loss, tanah pasir.
2.  Batuan sedimen fluvial, diendapkan di sungai. Misalnya: batu pasir.
3.  Batuan sedimen limnis, diendapkan di rawa/danau. Misalnya: tanah gambut.
4.  Batuan sedimen marine, diendapkan di laut. Misalnya batu karang.
5.  Batuan sedimen glasial, diendapkan di daerah es. Misalnya: batu lim.
3.  Batuan malihan/metamorf
Batuan malihan adalah batuan yang terbentuk karena adanya penambahan suhu dan atau tekanan yang sangat tinggi. Batuan malihan dikelompokkan menjadi:
a. Batuan malihan termik (kontak), terbentuk karena penambahan suhu yang tinggi dan perubahan secara kimia oleh intrusi magma panas. Misalnya: batu pualam.
b. Batuan malihan dinamik (sintektonik), terbentuk karena penambahan tekanan yang tinggi yang biasanya karena gaya tektonik. Misalnya: batu bara dan batu sabak.
c.  Batuan malihan pneumatolitik, terbentuk karena adanya pencampuran unsur lain ke dalam batuan tersebut. Misalnya: batu kopas, turmalin (batu permata), azurit (mineral pembawa tembaga).