Pages

Rabu, 16 April 2014

Peristiwa Sekitar Proklamasi dan Proses Terbentuknya NKRI



A.  Perbedaan Perspektif Antarkelompok Sekitar Proklamasi Kemerdekaan Indonesia
1.   Perbedaan golongan tua dengan golongan muda
Akibat dari kota Hirosima di bom atom pada tanggal 6 Agustus 1945 dan kota Nagasaki pada tanggal 9 Agustus 1945 oleh Amerika Serikat, Jepang menyatakan menyerah tanpa syarat kepada Sekutu pada tanggal 14 Agustus 1945. Penandatanganan penyerahan Jepang kepada Sekutu dilakukan di atas geladak kapal perang milik Amerika Serikat “Missouri” yang berlabuh di teluk Tokyo pada tanggal 2 September 1945. Panandatanganan penyerahan itu dari pihak Jepang diwakili Kaisar Hirohito sedang pihak Sekutu (Amerika Serikat) diwakili Jenderal Douglas Mc Arthur.
Kekalahan Jepang atas Sekutu diumumkan oleh Tenno Heika melalui radio, hal ini membuat situasi di Indonesia dalam kekosongan kekuasaan (vacuum of power). Berita kekalahan Jepang ini diterima melalui siaran radio di Jakarta oleh para pemuda yang termasuk orang-orang Menteng Raya 31 seperti Sukarni, B.M Diah, Yusuf Kunto, Wikana, Sayuti Melik, Adam Malik, Chaerul Saleh dan lainnya. Hal ini membuat para pemuda mendesak golongan tua diantaranya Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta untuk segera memproklamasikan kemerdekaan. Akan tetapi kedua tokoh tersebut menolak desakan dari golongan muda. Karena beralasan bahwa proklamasi kemerdekaan harus dirapatkan dahulu dengan anggota PPKI yang lain seperti Mr. Achmad Soebardjo, Mr. Muh. Yamin, Dr. Buntaran, Dr. Syamsi dan Mr. Iwa Kusumasumantri sehingga tidak menyimpang dari rencana yang telah disetujui pemerintah Jepang.
Karena sikap dari golongan tua ini, maka pada tanggal 15 Agustus 1945 malam hari golongan muda mengadakan rapat di salah satu ruangan Lembaga Bakteriologi di Pegangsaan Timur Jakarta. Rapat tersebut diketuai oleh Chaerul Saleh dan memutuskan tentang penegasan bahwa kemerdekaan Indonesia adalah hal dan soal rakyat Indonesia sendiri, tidak dapat digantungkan kepada bangsa lain. Segala ikatan, hubungan dan janji kemerdekaan dengan Jepang harus diputus, dan sebaliknya perlu mengadakan perundingan dengan Soekarno-Hatta agar kelompok pemuda diikutsertakan dalam menyatakan proklamasi.
Setelah rapat selesai Wikana dan Darwis menemui Ir. Soekarno guna menyampaikan semua hasil rapat. Akan tetapi Ir. Soekarno tetap tidak mau memproklamasikan kemerdekaan. Kuatnya pendirian Soekarno untuk tidak memproklamasikan kemerdekaan tanpa melibatkan PPKI menyebabkan golongan muda berpikir kalau golongan tua mendapat pengaruh dari Jepang. Selanjutnya para pemuda mengadakan rapat di Jalan Cikini 71 Jakarta pada pukul 24.00 WIB menjelang tanggal 16 Agustus 1945. Dan akhirnya para pemuda membawa Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok.
2.   Peristiwa Rengasdengklok
Rengasdengklok adalah kota kecil yang letaknya di sebelah utara Kerawang yang merupakan kota Kawedanan tempat kedudukan sebuah Cudan (Kompi Tentara PETA). Pemilihan Rengasdengklok sebagai tempat pengamanan Soekarno-Hatta, didasarkan pada perhitungan militer. Antara anggota Peta Daidan Purwakarta dan Daidan Jakarta terdapat hubungan erat sejak mereka mengadakan latihan bersama. Secara geograļ¬s, Rengasdengklok letaknya terpencil. Dengan demikian akan dapat dilakukan deteksi dengan mudah terhadap setiap gerakan tentara Jepang yang hendak datang ke Rengasdengklok, baik yang datang dari arah Jakarta, maupun dari arah Bandung atau Jawa Tengah. Tujuan para pemuda mengamankan Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok yaitu:
a.    Agar kedua tokoh tersebut tidak terpengaruh Jepang.
b.   Mendesak keduanya supaya segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia terlepas dari segala ikatan dengan Jepang.
Para pemuda yang membawa Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok yaitu Sukarni, Yusuf Kunto, dan Syudanco Singgih.
Untuk mengakhiri permasalahan ini, Achmad Soebardjo menuju Rengasdengklok bersama Sudiro, dan Yusuf Kunto. Dalam pertemuan antara Achmad Soebardjo dan Wikana dihasilkan kesepakatan yaitu kemerdekaan akan dilaksanakan pada tanggal 17 Agustus 1945 sebelum jam 12.00 WIB. Atas dasar kesepakatan itu, kemudian Achmad Soebardjo meyakinkan Soekarno-Hatta bahwa Jepang telah benar-benar menyerah. Golongan pemuda juga diyakinkan oleh Achmad Soebardjo untuk melepaskan Soekarno-Hatta dan kembali ke Jakarta dengan jaminan proklamasi kemerdekaan pada keesokan harinya (17 Agustus 1945).

B.   Kronologi Proklamasi Kemerdekaan Indonesia
1.   Perumusan teks proklamasi
Setiba di Jakarta ketiga tokoh yakni Soekarno, Hatta dan Achmad Soebardjo menuju ke kediaman Laksamana Muda Maeda di jalan Imam Bonjol No. 1 untuk meminta izin rumahnya dijadikan tempat rapat PPKI. Dalam rapat tersebut juga dihadiri dari golongan muda seperti Sayuti Melik, Sukarni, dan Sudiro.
Perumusan teks proklamasi dikemukakan oleh tiga tokoh yaitu
a.    Achmad Subardjo mengusulkan konsep kalimat pertama yang berbunyi: “Kami rakyat Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan kami” kemudian berubah menjadi “Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia”.
b.   Soekarno menuliskan konsep kalimat kedua yang berbunyi: “Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan, dan lain-lain akan diselenggarakan dengan cara yang secermat-cermatnya serta dalam tempo yang sesingkat-singkatnya”.
c.    Moh. Hatta menggabungkan kedua kalimat di atas dan disempurnakan sehingga berbunyi seperti teks proklamasi yang kita miliki.
Setelah rumusan teks proklamasi selesai dirumuskan dan dibaca berulang kali. Kemudian Sukarni mengusulkan agar Soekarno-Hatta untuk menandatangani teks proklamasi atas nama bangsa Indonesia. Selanjutnya Soekarno minta kepada Sayuti Melik untuk mengetik naskah tulisan tangan tersebut. Setelah diketik ada perubahan-perubahan sebagai berikut:
No.
Proklamasi tulisan tangan
Proklamasi setelah diketik
1.
Proklamasi
PROKLAMASI
2.
Tempoh
Tempo
3.
Wakil-wakil bangsa Indonesia
Atas nama bangsa Indonesia
4.
Djakarta 17-8-05
Djakarta, hari 17 boelan 8 tahoen '05
Pada naskah tertulis tahun ‘05 yang merupakan singkatan tahun Jepang 2605 yang sama dengan 1945 M.
2.   Pembacaan teks proklamasi
Pembacaan teks proklamasi kemerdekaan direncanakan akan dibacakan di Lapangan Ikada, namun pada saat yang bersamaan pasukan Jepang telah mengepung dengan ketat Lapangan Ikada. Untuk menghindari bentrokan antara rakyat dan pasukan Jepang maka pembacaan teks proklamasi kemerdekaan diselenggarakan di rumah Soekarno di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56 Jakarta.
Sejak pagi hari tanggal 17 Agustus 1945, di kediaman Soekarno Jalan Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta telah diadakan berbagai persiapan untuk menyambut Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Tokoh-tokoh yang hadir dalam pembacaan teks proklamasi diantaranya lain Ki Hajar Dewantara, Abikoesno Tjokrosoejoso, Buntaran Martoatmodjo, A.A. Maramis Latuharhary, Anwar Tjokraminoto, Otto Iskandardinata, K.H. Mas Mansyur, Sayuti Melik, Dr. Moewardi, A.G. Pringgodigdo, dan Soewiryo. Selain itu, rakyat pun telah berdatangan dan memadati kediaman rumah Soekarno untuk mengikuti kegiatan monumental. Setelah semua pihak yang dianggap berkepentingan hadir, maka teks proklamasi pun dibacakan pada pukul 10.00 WIB.
Dalam pembacaan teks proklamasi dilaksanakan upacara terlebih dahulu, dan taat urutan upaca tersebut sebagai berikut:
a.    Sambutan oleh Ir. Soekarno
Saudara-saudara sekalian!
Saja sudah minta saudara-saudara hadir di sini untuk menjaksikan satu peristiwa maha penting dalam sedjarah kita.
Berpuluh-puluh tahun kita bangsa Indonesia telah berdjoang untuk kemerdekaan tanah air kita. Bahkan telah beratus-ratus tahun. Gelombangnja aksi kita untuk mentjapai kemerdekaan kita itu ada naik dan ada turun, tetapi djiwa kita tetap menudju ke arah tjita-tjita.
Djuga di dalam djaman Djepang, usaha kita untuk mentjapai kemerdekaan nasional tidak henti-henti. Di dalam djaman Djepang ini, tampaknja sadja kita menjandarkan diri kepada mereka. Tetapi pada hakekatnja, tetap kita menjusun tenaga kita sendiri, tetap kita pertjaja kepada kekuatan kita sendiri.
Sekarang tibalah saatnja kita benar-benar mengambil nasib bangsa dan nasib tanah air di dalam tangan kita sendiri. Hanja bangsa jang berani mengambil nasib dalam tangan sendiri akan dapat berdiri dengan kuatnja.
Maka kami, tadi malam telah mengadakan musjawarat dengan pemuka-pemuka rakjat Indonesia, dari seluruh rakjat Indonesia. Permusjawaratan itu seia-sekata berpendapat, bahwa sekaranglah datang saatnja untuk menjatakan kemerdekaan kita.
Saudara-saudara! Dengan ini kami njatakan kebulatan tekad itu. Dengarlah proklamasi kami.
Proklamasi

Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan Kemerdekaan Indonesia.

Hal-hal jang mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l., diselenggarakan dengan tjara saksama dan dalam tempo jang sesingkat-singkatnja.
Djakarta, hari 17 boelan 8 tahoen ‘05

Atas nama bangsa Indonesia,



Soekarno/Hatta
Demikianlah, saudara-saudara!
Kita sekarang telah merdeka!
Tidak ada satu ikatan lagi jang mengikat tanah air kita bangsa kita!
Mulai saat ini kita menjusun Negara kita! Negara Merdeka, Negara Republik Indonesia, merdeka, kekal abadi.
Insja Allah, Tuhan memberkati kemerdekaan kita itu!
b.   Pengibaran bendera merah putih oleh Suhud dan Latief Hendraningrat diiringi lagu Indonesia Raya.
c.    Pemberian sambutan oleh dua orang panitia, diantaranya adalah walikota Jakarta yaitu Soewiryo dan Dr. Moewardi.

Minggu, 23 Maret 2014

Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia



A.  Pembentukan BPUPKI
1.   Latar belakang pembentukan BPUPKI
Jepang dalam Perang Asia Pasifik melawan Sekutu menuju kekalahan setelah memasuki tahun 1942. Di mana kekalahan Jepang ini terjadi dalam Perang Laut Karang (4 Mei 1942), perang di Guadacanal (6 Nopember 1942) dan dalam pertempuran laut di dekat Kepulauan Bismarck (1 Maret 1943). Keadaan semakin parah setelah pada bulan Juli 1944, Pulau Saipan pada gugusan Kepulauan Mariana jatuh ke tangan Sekutu.
Kekalahan Jepang di berbagai pertempuran ini membuat Perdana Menteri Hideki Tojo mundur dan digantikan oleh Jenderal Kuniaki Koiso pada tanggal 17 Juli 1944. Pada tanggal 7 September 1944, Perdana Menteri Koiso berjanji akan memberi kemerdekaan kepada Indonesia di kemudian hari. Hal ini dimaksudkan agar rakyat Indonesia membantu Jepang dalam Perang Asia Pasifik. Untuk menyakinkan janjinya, maka pada tanggal 1 Maret 1945, melalui Letnan Jenderal Harada Kumakici mengumumkan akan dibentuk Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) atau dalam bahasa Jepang disebut Dokuritsu Junbi Cosakai.
Maksud dan tujuan dibentuknya BPUPKI adalah untuk mempelajari dan menyelidiki hal-hal yang berkaitan dengan pembentukan negara Indonesia. Oleh karena itu, BPUPKI merumuskan dasar Negara. BPUPKI dibentuk pada tanggal 29 April 1945 dan dilantik pada tanggal 28 Mei 1945, di mana ketuanya (Dr. KRT. Radjiman Wedyodiningrat), wakil (Ichibangase), kepala Badan Perundingan (Ichibangase), kepala sekretariat (RP. Suroso yang dibantu Toyohiko Masuda dan Mr. A.G. Pringgodigdo). Keanggotaannya terdiri dari 60 orang Indonesia dan 7 orang Jepang yang dilantik oleh Letnan Jenderal Harada Kumakici di gedung Cuo Sangi In Jalan Pejambon Jakarta. Pelantikan dihadiri oleh dua pembesar Jepang, yaitu Letnan Jenderal Itagaki (Panglima Tentara Wilayah VII yang bermarkas di Singapura) dan Letnan Jenderal Yaiciro Nagano (Panglima Tentara XVI di Jawa). Pada pelantikan itu, bendera Merah Putih dikibarkan oleh Toyohiko Masuda dan bendera Hinomaru dikibarkan oleh Mr. A.R. Pringgodigdo.
2.   Masa persidangan BPUPKI
a.    Masa sidang I
Sidang I dilaksanakan pada tanggal 29 Mei 1945 sampai 1 Juni 1945 yang diketuai oleh Dr. KRT. Radjiman Wedyodiningrat. Dalam sidang ini ada tiga tokoh bangsa yang menyampaikan pandangannya tentang dasar negara.
1)   Mr. Muh. Yamin, menyampaikan pandangannya tentang lima dasar negara kebangsaan Indonesia pada tanggal 29 Mei 1945 yaitu:
a)  Peri kebangsaan
b)  Peri kemanusiaan
c)  Peri ketuhanan
d)  Peri kerakyatan
e)  Kesejahteraan rakyat
2)   Mr. Soepomo, menyampaikan pandangannya tentang dasar negara Indonesia merdeka pada tanggal 31 Mei 1945 yaitu:
a)  Persatuan
b)  Kekeluargaan
c)  Keseimbangan lahir dan batin
d)  Musyawarah
e)  Keadilan rakyat
3)   Ir. Soekarno, menyampaikan pandangannya tentang dasar falsafah negara Indonesia merdeka yang disebut Pancasila pada tanggal 1 Juni 1945 yaitu:
a)  Kebangsaan Indonesia
b)  Internasionalisme atau peri kemanusiaan
c)  Mufakat atau demokrasi
d)  Kesejahteraan sosial
e)  Ketuhanan Yang Maha Esa
Sidang I reses hingga tanggal 10 Juli 1945. Sambil menunggu masa sidang berikutnya, dibentuklah Panitia Sembilan yang terdiri dari ketua (Ir. Soekarno) dan anggotanya (Drs. Moh. Hatta, Mr. A.A. Maramis, Abikusno Tjokrosujoso, Abdulkahar Muzakir, H. Agus Salim, Mr. Achmad Soebardjo, K.H.A. Wachid Hasyim dan Mr. Muh. Yamin).
Pada tanggal 22 Juni 1945, Panitia Sembilan melahirkan rumusan yang terkenal dengan nama Piagam Jakarta (Jakarta Charter). Di mana rumusan tersebut diusulkan menjadi dasar falsafah negara Indonesia merdeka yaitu:
1)   Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya.
2)   Dasar kemanusiaan yang adil dan beradab.
3)   Persatuan Indonesia.
4)   Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan.
5)   Mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
b.   Masa sidang II
Sidang II dilaksanakan pada tanggal 10 Juli 1945 sampai 17 Juli 1945 yang membahas tentang rancangan undang-undang dasar (UUD). Panitia Perancang UUD diketuai oleh Ir. Soekarno.
Panitia Perancang membentuk Panitia Kecil yang bertugas merumuskan rancangan UUD dengan segala pasal-pasalnya. Panitia Kecil ini dipimpin oleh Mr. Soepomo dan anggotanya terdiri dari Mr. Wongsonegoro, Mr. Achmad Soebardjo, Mr. A.A. Maramis, Mr. R.B. Singgih, Dr. Sukiman dan H. Agus Salim. Hasil kerja panitia kecil dilaporkan tanggal 14 Juli 1945 oleh Ir. Soekarno yang berisi tentang:
1)   Pernyataan Indonesia merdeka.
2)   Pembukaan Undang-Undang Dasar (Preambul).
3)   Undang-Undang Dasar (Batang Tubuh).
Akhirnya Sidang BPUPKI menerima secara bulat hasil kerja panitia tersebut. Setelah rancangan UUD berhasil disusun, pada tanggal 7 Agustus 1945 BPUPKI dibubarkan.

B.   Pembentukan PPKI
1.   Latar belakang pembentukan PPKI
Terdesaknya Jepang dalam Perang Asia Pasifik oleh Sekutu membuat Komando Tentara Jepang wilayah Selatan mengadakan rapat dan menyepakati bahwa Indonesia akan diberi kemerdekaan pada tanggal 7 September 1945.
Akan tetapi keadaan semakin kritis setelah Amerika Serikat menjatuhkan bom atom di Kota Hirosima pada tanggal 6 Agustus 1945. Akibatnya Jenderal Terauchi menyetujui pembentukan Panitia Kemerdekaan Indonesia (PPKI) atau Dokuritsu Junbi Inkai.
Tugas dari PPKI yaitu melanjutkan tugas BPUPKI dan untuk mempersiapkan kemerdekaan Indonesia. Dan yang ditunjuk menjadi ketua PPKI (Ir. Soekarno), wakilnya (Drs. Moh. Hatta), penasihat (Mr. Achmad Soebardjo), dan anggotanya berjumlah 21 orang Indonesia yang mewakili berbagai daerah di Indonesia ditambah 6 orang lagi tanpa sepengetahuan Jepang.
Pada tanggal 9 Agustus 1945, tiga tokoh Indonesia yakni Ir. Soekarno, Drs. Moh. Hatta dan Dr. Radjiman Wedyodiningrat dipanggil ke Dalath (Vietnam Selatan) oleh Panglima Daerah Asia Tenggara (Jenderal Terauchi). Dalam pertemuan itu, Jenderal Terauchi menyampaikan hal-hal sebagai berikut:
a.    Pemerintah kekaisaran Jepang telah memutuskan untuk memberikan kemerdekaan kepada Indonesia.
b.   Pelaksanaannya dapat dilakukan segera setelah persiapan yang dilakukan PPKI selesai.
c.    Lekas dan lambatnya pekerjaan, sepenuhnya diserahkan kepada panitia.
d.   Wilayah Indonesia merdeka meliputi seluruh bekas wilayah Hindia Belanda.
2.   Masa persidangan PPKI
a.    Masa sidang I
Berlangsung pada tanggal 18 Agustus 1945 dan hasilnya yaitu:
1)   Mengesahkan UUD 1945.
2)   Mengangkat Ir. Soekarno sebagai Presiden RI dan Drs. Moh. Hatta sebagai Wakil Presiden.
3)   Untuk sementara tugas presiden dan wakil presiden dibantu oleh Komite Nasional Indonesia.
b.   Masa sidang II
Berlangsung pada tanggal 19 Agustus 1945 dan hasilnya yaitu:
1)   Menetapkan wilayah Indonesia menjadi 8 provinsi dan menunjuk gubernurnya.
2)   Menetapkan 12 departemen beserta menteri-menterinya.
3)   Mengusulkan dibentuknya tentara kebangsaan.
4)   Pembentukan komite nasional di setiap provinsi.
c.    Masa sidang III
Berlangsung pada tanggal 22 Agustus 1945 dan hasilnya yaitu:
1)   Pembentukan komite nasional di setiap daerah.
2)   Dibentuknya Partai Nasional Indonesia.
3)   Membentuk BKR (Badan Keamanan Rakyat).
Pada tanggal 29 Agustus 1945 PPKI dibubarkan bersamaan dengan pelantikan anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP).

Rabu, 26 Februari 2014

Manifesto Politik 1925, Kongres Pemuda tahun 1928, Kongres Perempuan


A. Manifesto Politik 1925
Manifesto politik merupakan pandangan terbuka tentang negara. Organisasi pergerakan yang secara langsung dan terbuka berani memberikan pernyataan politik yang berkaitan dengan nasib dan masa depan bangsa Indonesia adalah Perhimpunan Indonesia (PI). Konsep-konsep manifesto politik Perhimpunan Indonesia sebenarnya telah dimunculkan dalam Majalah Hindia Poetra, edisi Maret 1925. Akan tetapi, Perhimpunan Indonesia baru menyampaikan manifesto politiknya secara tegas pada awal tahun 1925 yang kemudian dikenal sebagai Manifesto Politik 1925 yang isinya sebagai berikut

“Masa depan rakyat Indonesia secara eksklusif dan semata-mata terletak dalam bentuk suatu pemerintahan yang bertanggung jawab kepada rakyat dalam arti yang sebenar-benarnya, karena hanya bentuk pemerintahan yang seperti itu saja yang dapat diterima oleh rakyat. Setiap orang Indonesia haruslah berjuang untuk tujuan ini sesuai dengan kemampuan dan kecakapannya, dengan kekuatan dan usahanya sendiri, tanpa bantuan dari luar. Setiap pemecah belahan kekuatan bangsa Indonesia dalam bentuk apapun haruslah ditentang, karena hanya dengan persatuan yang erat di antara putra-putra Indonesia saja yang dapat menuju kearah tercapainya tujuan bersama”
                             
Manifesto politik 1925 mengandung 4 pokok pikiran:
  • Kesatuan nasional mengesampingkan perbedaan dan membentuk aksi melawan Belanda serta menciptakan Negara kebangsaan Indonesia yang merdeka dan bersatu.
  • Solidaritas yang disebabkan adanya pertentang kepentingan di antara penjajah dan terjajah serta tajamnya konflik diantara kulit putih dan sawo matang.
  • Non kooperasi yaitu kemerdekaan bukan hadiah Belanda, tetapi harus direbut dengan mengandalkan kekuatan sendiri.
  • Swadaya mengandalkan kekuatan sendiri dengan mengembangkan struktur alternatif dalam kehidupan nasional, politik, sosial, ekonomi, dan hukum yang sejajar dengan administrasi kolonial.
B. Kongres Pemuda tahun 1928
1.  Kongres Pemuda I (30 April-2 Mei 1926 di Jakarta yang dipimpin oleh Muhammad Tabrani)
a.  Tujuan kongres ini adalah menanamkan semangat kerja sama antarperkumpulan pemuda di Indonesia untuk menjadi dasar bagi persatuan Indonesia.
b.  Dalam kongres ini dihasilkan keputusan berupa
1)  Mempersiapkan kongres pemuda Indonesia.
2)  Mengusulkan semua perkumpulan pemuda agar bersatu dalam organisasi pemuda Indonesia.
2.  Kongres Pemuda II (27-28 Oktober 1928 di Jakarta) atas inisiatif dari PPPI dan Pemuda Indonesia
a.  Di mana struktur dari kongres ini yaitu
1)  Pemimpin kongres Sugondo Joyopuspito.
2)  Wakil ketua Djoko Marsaid.
3)  Sekretaris M. Yamin.
4)  Bendahara Amir Syarifudin.
5)  Pembantu Djohan Tjain, Kotjo Sungkono, Senduk, J. Leimena, Rohjani.
b.  Wakil-wakil yang menghadiri kongres
1)  Wakil-wakil organisasi pemuda (Jong Java, Jong Sumatranen Bond, PI, Sekar Rukun, Jong Islamieten Bond, Jong Batak, Jong Celebes, Pemuda Kaum Betawi, dan PPPI).
2)  Wakil-wakil dari partai (BU, PNI, PSI).
3)  Pejabat-pejabat pemerintah Belanda.
c)  Keputusan dari kongres ini antara lain
1)  Mengucapkan ikrar Sumpah Pemuda (Satu Nusa, Satu Bangsa dan Satu Bahasa Indonesia).
2)  Lagu Indonesia Raya ditetapkan sebagai lagu kebangsaan Indonesia.
3)  Sang Merah Putih ditetapkan menjadi bendera Indonesia.
4)  Semua organisasi pemuda dilebur menjadi satu dengan nama Indonesia Muda.

C.  Kongres Perempuan
Pergerakan kaum perempuan dipelopori R.A. Kartini dari Jepara yang mendirikan Sekolah Kartini. Setelah itu banyak perkumpulan-perkumpulan yang menjadi wadah aspirasi permpuan diantaranya Putri Mardiko di Jakarta, Kautaman Istri di Tasikmalaya, Kartinifonds (Dana Kartini) di Semarang, Aisyah di Yogyakarta, Budi Wanita di Solo, Istri Sedar di Bandung, Ina Tani di Ambon, Wanita Rukun Santosa di Malang, Percintaan Ibu kepada Anak Turunnya di Minahasa.
Dalam perkembangannya, perkumpulan-perkumpulan tersebut melaksanakan kongres yang dikenal dengan “Kongres Perempuan Indonesia” yaitu:
1.  Kongres Perempuan I, diselenggarakan tanggal 22-25 Desember 1928 di Jakarta. Dalam kongres ini membentuk Perserikatan Perempuan Indonesia (PPI)yang dipimpin Ny. Sukanto. Tujuan kongres ini yaitu memberi penerangan dan perantaraan kepada perkumpulan yang menjadi anggotanya, membantu dana belajar pada anak perempuan yang pandai, mengadakan kursus kesehatan, menentang perkawinan anak-anak, dan memajukan kepanduan bagi anak-anak perempuan. Dalam kongresnya pada tanggal 28-31 Desember 1929 di Jakarta, mengubah nama PPI menjadi PPII (Perikatan Perhimpunan Istri Indonesia).
2.  Kongres Perempuan II, diselenggarakan tanggal 20-24 Juli 1935 di Jakarta yang dipimpin oleh Ny. Sri Mangunsarkoro. Dalam kongres ini membicarakan tentang masalah persatuan di kalangan wanita, masalah wanita dalam keluarga, masalah poligami dan perceraian serta sikap yang harus diambil terhadap kolonialisme Belanda.
3.  Kongres Perempuan III, diselenggarakan tanggal 23-28 Juli 1938 di Bandung yang dipimpin oleh Ny. Emma Puradireja. Dalam kongres ini membicarakan tentang Undang-undang perkawinan modern, persoalan politik yang kaitannya dengan hak pilih dan dipilih bagi kaum wanita untuk posisi Badan Perwakilan (volksraad), dan menetapkan tanggal 22 Desember diperingati sebagai Hari Ibu.