26 September 2013

Manusia sebagai Makhluk Sosial dan Ekonomi



 A. Manusia sebagai Makhluk Sosial dan Ekonomi yang Bermoral
Manusia merupakan makhluk yang memiliki peran dalam kehidupan sebagai makhluk sosial maupun makhluk ekonomi. Keinginan manusia sangatlah banyak, oleh sebab itu bagaimana caranya manusia dapat memenuhi keinginannya tersebut. Dalam memenuhi keinginannya, manusia berhubungan dengan orang lain dan memerhatikan keterbatasan sumber daya. Artinya, manusia bertindak sebagai makhluk sosial dan juga makhluk ekonomi.
1.  Manusia sebagai makhluk sosial
Manusia dalam menghadapi kehidupannya tidak dapat memenuhi kebutuhan hidupnya dengan sendirian karena setiap manusia akan bergantung kepada manusia yang lain. Hal ini yang menyebutkan bahwa manusia adalah makhluk sosial (homo socialis). Sebagai makhluk sosial manusia melakukan berbagai kegiatan, berinteraksi dengan sesama manusia dan lingkungannya. Hal itu dilakukan untuk mempertahankan hidupnya dan berkembang. Menurut Aristoteles, manusia adalah zoon politicon yang berarti manusia dikodratkan untuk hidup bermasyarakat. Faktor yang mendorong manusia untuk hidup bermasyarakat yaitu:
a.  Faktor sosial, yaitu manusia mempunyai keinginan untuk bergabung dengan individu atau kelompok lain.
b.  Faktor perkawinan, yaitu manusia mempunyai keinginan mengembangkan keturunannya yang dapat diharapkan dengan baik.
c.  Faktor senasib, yaitu adanya perasaan senasib seperjuangan sehingga memiliki solidaritas yang tinggi dengan sesamanya.
d.  Faktor untuk bersatu, yaitu adanya kelemahan pada diri manusia, sehingga memungkinkan untuk bersatu supaya kuat.
Sebagai makhluk sosial, manusia akan berusaha untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, termasuk kebutuhan sosialnya. Kehidupan sosial manusia, misalnya kebutuhan untuk berinteraksi, kebutuhan keamanan, kebutuhan pendidikan, kebutuhan kesehatan dan sebagainya.
Untuk melaksanakan berbagai kebutuhannya tersebut dapat dilakukan dengan sosialisasi dan inkulturasi. Sosialisasi adalah proses integrasi individu dengan masyarakat terutama penyesuaian sikap dan kebiasaan sehingga dapat menjadi bagian dari masyarakat. Sedang inkulturasi adalah proses penyesuaian nilai, norma dan budaya seseorang dengan masyarakat lainnya.
Manusia sebagai makhluk sosial memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
a.  Berusaha melaksanakan pengendalian diri
Dalam melakukan sosialisasi di dalam masyarakat, terdapat pengawasan sosial agar tidak terjadi pelanggaran nilai dan norma yang ada dalam masyarakat. Dengan adanya pengawasan sosial ini, manusia akan mengendalikan dirinya dalam kehidupan bermasyarakat.
b.  Memerlukan kerjasama dan saling menolong dengan sesama anggota masyarakat
Pada dasarnya, manusia membutuhkan pertolongan sehingga sering disebut dengan istilah homo homini socius, artinya sebagai kawan atau teman bagi manusia lainnya.
2.  Manusia sebagai makhluk ekonomi
Dalam hidupnya, manusia selalu menginginkan kebutuhannya terpenuhi. Untuk memenuhi kebutuhannya, manusia dalam hidupnya menggunakan prinsip-prinsip ekonomi agar kebutuhannya terwujud. Dengan prinsip-prinsip ekonomi akan tercapai kemakmuran yang dicita-citakan. Hal ini menunjukkan bahwa manusia adalah sebagai homo economicus artinya hidup menurut kepentingan diri sendiri. Manusia sebagai homo economicus mempunyai arti bahwa manusia dalam usahanya mencapai kemakmurannya selalu ingin melepaskan diri dari moral dan bertindak sebagai makhluk ekonomi saja.
Menurut Adam Smith, manusia perlu diberi kebebasan untuk berusaha secara individu guna memenuhi kehidupannya sampai mencapai kemakmuran. Jika setiap orang memperoleh kemakmuran, maka negara juga akan mencapai kemakmuran. Hal inilah yang menjelaskan bahwa manusia adalah homo economicus.
Sebagai homo economicus, manusia dihadapkan pada persoalan ekonomi. Dan permasalahan ekonomi itu sendiri muncul karena jumlah alat pemuas kebutuhan yang terbatas dibanding dengan kebutuhan manusia yang terus bertambah, selain itu adanya pemenuhan kebutuhan yang tidak tepat.
Kebutuhan manusia dipengaruhi oleh kemampuan, usaha masing-masing dan faktor-faktor lain yang memengaruhi keinginan manusia dalam memenuhi kebutuhannya. Faktor-faktor lain yang dimaksud yaitu:
a.  Umur dan jenis kelamin; Perbedaan jenis kelamin dan umur dapat memengaruhi perbedaan jenis dan jumlah kebutuhan setiap individu.
b.  Pendidikan; Bagi individu yang memiliki pendidikan yang lebih tinggi maka kebutuhannya juga semakin banyak dan beragam.
c.  Lingkungan tempat tinggal; Seseorang yang bertempat tinggal di kota dan di desa sangat berbeda kebutuhannya. Karena pola hidup seseorang dipengaruhi oleh alam di mana mereka tinggal.
d.  Sumber daya alam (SDA); Seseorang yang hidup di tempat yang memiliki SDA yang melimpah dapat memenuhi kebutuhan dengan baik, sehingga kebutuhan untuk pemenuhan hidupnya tinggi.
e.  Sumber daya manusia (SDM); Bila SDM suatu negara tinggi, maka ilmu pengetahuan dan teknologi negara tersebut juga tinggi, sehingga menyebabkan adanya penemuan-penemuan baru dan produk-produk baru. Adanya produk baru ini akan memengaruhi orang untuk memiliki sehingga muncul kebutuhan akan produk baru itu.
Akan tetapi setiap kebutuhan manusia harus dipenuhi dengan baik, kita harus memperhatikan segala hal yang dapat terjadi bila tidak hati-hati. Untuk itu, di dalam memenuhi kebutuhannya manusia harus menggunakan pertimbangan dari segi moral, yaitu memerhatikan aturan, norma, hukum, agama, maupun adat istiadat. Manusia sebagai makhluk ekonomi dalam melakukan tindakan ekonomi harus memiliki aspek yaitu:
a.  Rasionalitas (akal sehat); Adalah kemampuan untuk berpikir dengan baik dan mampu mengambil keputusan secara tepat. Manusia memiliki beberapa kendala, tetapi dengan akal sehat yang dijalankan, akan dapat mengatasi kendala tersebut. Pemenuhan kebutuhan dengan menggunakan akal sehat dapat membandingkan jumlah biaya yang akan dikeluarkan dengan jumlah barang dan jasa yang akan diperoleh. Selain itu, dengan akal sehat dapat membedakan kebutuhan apa yang harus didahulukan dan apa yang dapat ditunda.
b.  Kepentingan pribadi; Manusia sebagai makhluk homo economicus memiliki kepentingan pribadi dan kepentingan sosial. Jika sumber daya ekonomi yang ada dapat mencukupi, maka tidak akan terjadi persaingan dan sikap mendahulukan kepentingan pribadi.
c.  Informasi; Guna menunjang kegiatan ekonomi, diperlukan informasi yang benar dan lengkap agar pilihan yang ditetapkan mempunyai nilai kegunaan yang besar dan bermanfaat.
d.  Moral; Penggunaan moral dan akhlak akan dapat menghindarkan terjadinya pemenuhan kebutuhan dengan menghalalkan segala cara, merugikan orang lain atau dengan jalan yang tidak baik.
3.  Peran manusia sebagai makhluk sosial dan ekonomi yang bermoral
Dalam kaitannya dengan kegiatan ekonomi, manusia memiliki tiga peran, yaitu sebagai produsen, konsumen, dan distributor. Sebagai makhluk sosial dan ekonomi yang bermoral, maka dalam melakukan kegiatan ekonomi hendaknya memerhatikan norma, tradisi dan agama yang ada.
a.  Sikap manusia sebagai produsen yang bermoral
1.  Memproduksi barang dan jasa yang dibutuhkan masyarakat.
2.  Memproduksi barang dan jasa yang berkualitas baik dan dapat dipertanggungjawabkan.
3.  Kegiatan produksinya memerhatikan kelestarian lingkungan (tidak merusak lingkungan sekitar).
4.  Memberikan upah atau gaji yang layak serta menjamin kesejahteraan bagi para karyawannya.
5.  Memberikan perlindungan bagi para karyawan dan keluarganya.
6.  Tidak melakukan pemborosan terhadap sumber daya modal dan sumber daya alam yang ada.
7.  Mengambil keuntungan yang wajar dan tidak menaikkan harga barang pada saat barang tersebut sulit didapat.
8.  Tidak memproduksi barang yang dilarang pemerintah.
9.  Menggunakan teknologi dan sumber daya yang tepat guna.
b.  Sikap manusia sebagai konsumen yang bermoral
1.  Tidak mengonsumsi barang/jasa yang dilarang agama dan pemerintah.
2.  Mengonsumsi barang-barang yang benar-benar dibutuhkan.
3.  Tidak bersifat konsumtif dalam melakukan konsumsi.
4.  Tidak mudah tertarik oleh bujukan iklan atau promosi barang.
5.  Melakukan penawaran barang yang sesuai dengan kualitas barang.
6.  Tidak merasa iri atau tergoda untuk memiliki barang yang dimiliki orang lain.
7.  Berusaha mendapatkan barang dengan harga yang paling murah.
c.  Sikap manusia sebagai distributor yang bermoral
1.  Tidak memperdaya konsumen melalui iklan yang menyesatkan.
2.  Mempromosikan barang/jasa dengan kewajaran.
3.  Memberikan pelayanan yang terbaik bagi para konsumen.
4.  Tidak mempermainkan harga untuk kepentingan pribadi.
5.  Berusaha memberikan kepuasan yang maksimal kepada konsumen.

B. Perilaku manusia sebagai makhluk sosial dan ekonomi yang bermoral dalam memenuhi kebutuhan
Manusia tidak akan puas dengan apa yang telah dicapainya, karena kebutuhannya akan terus bertambah. Akan tetapi alat untuk memuaskan kebutuhan tersebut sangat terbatas jumlahnya, sehingga kita harus bijaksana dan arif dalam menggunakan alat pemuas kebutuhan yang ada.
Kelangkaan atau keterbatasan alat pemuas kebutuhan menyebabkan terjadinya ketidakseimbangan antara kebutuhan dengan alat pemuas kebutuhan. Ketidakseimbangan inilah yang disebut kelangkaan.
Adapun faktor-faktor yang memengaruhi kebutuhan manusia dalam memenuhi kebutuhannya diantaranya:
1.  Sifat alami manusia; Artinya adanya usaha untuk memenuhi kebutuhan hidupnya yang semakin bertambah setiap harinya.
2.  Perubahan taraf hidup; Pendapatan suatu masyarakat bertambah akan membawa perubahan tingkat hidup dari masyarakat tersebut, sehingga pemenuhan kebutuhan dapat dicapai. Hal ini dapat menumbuhkan kebutuhan hidup yang semakin banyak dan beragam.
3.  Lingkungan masyarakat; Situasi dan kondisi dari tempat tinggal akan membawa pengaruh dalam pemenuhan kebutuhan, karena disesuaikan dengan lingkungan sekitarnya.
4.  Pertambahan penduduk; Penduduk yang semakin padat maka membutuhkan alat pemuas kebutuhan yang semakin besar. Apabila pertambahan penduduk tidak terkendali akan memengaruhi jumlah dari alat pemuas kebutuhan.
5.  Kemajuan iptek; Dengan adanya perkembangan iptek maka menyebabkan kebutuhan untuk menerapkan iptek tersebut juga meningkat. Sehingga menyebabkan alat pemuas kebutuhan yang tersedia menjadi terbatas.
6.  Demonstrations effect; Adalah timbulnya kebutuhan seseorang yang dipengaruhi banyaknya orang yang menggunakan, dan kebutuhan tersebut disebabkan adanya tren yang sedang berkembang di masyarakat.

C. Usaha Pemenuhan Kebutuhan Oleh Manusia
Kebutuhan adalah keinginan manusia baik yang berupa barang atau jasa yang dapat memberikan kepuasan bagi jasmani atau rohani untuk kelangsungan hidup manusia. Jenis-jenis kebutuhan
1. Kebutuhan menurut intensitasnya, dibedakan menjadi:
a.  Kebutuhan primer, adalah kebutuhan manusia yang mutlak harus dipenuhi untuk kelangsungan hidup dari manusia itu sendiri. Contohnya: kebutuhan pangan, sandang dan papan.
b.  Kebutuhan sekunder, adalah kebutuhan manusia yang melengkapi kebutuhan primer dan tidak harus dipenuhi. Contohnya: peralatan elektronik, meja kursi dan lain-lain.
c.  Kebutuhan tersier, adalah kebutuhan yang bersifat mewah atau kebutuhan yang dipenuhi setelah kebutuhan primer dan sekunder. Contohnya: mobil mewah, rumah mewah dan lain-lain.
2. Kebutuhan menurut bentuknya, dibedakan menjadi:
a.  Kebutuhan jasmani (lahiriah), adalah kebutuhan yang pemenuhannya untuk memenuhi kepentingan jasmani. Contohnya: makanan, pakaian, peralatan olahraga dan lain-lain.
b.  Kebutuhan rohani (batiniah), adalah kebutuhan yang pemenuhannya untuk memenuhi kebutuhan jiwa/rohani. Contohnya: rekreasi, kesenian, agama, pendidikan dan lain-lain.
3. Kebutuhan menurut subjeknya, dibedakan menjadi:
a.  Kebutuhan pribadi, adalah kebutuhan yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan pribadi. Contohnya: peralatan sekolah, perlengkapan mandi dan lain-lain.
b.  Kebutuhan kolektif, adalah kebutuhan yang pemenuhannya untuk memenuhi kebutuhan orang banyak. Contohnya: kebutuhan akan rumah sakit, kebutuhan akan gedung sekolah, dan lain-lain.
4. Kebutuhan menurut jenisnya, dibedakan menjadi:
a.  Kebutuhan ekonomi, adalah kebutuhan yang pemenuhannya digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Contohnya: kebutuhan makan, kebutuhan tempat tinggal dan lain-lain.
b.  Kebutuhan non-ekonomi, adalah kebutuhan untuk mendapatkan status sosial atau penghargaan. Contohnya: kebutuhan barang mewah, kebutuhan mobil, dan lain-lain.
5. Kebutuhan menurut waktu pemenuhannya, dibedakan menjadi:
a.  Kebutuhan sekarang, adalah kebutuhan yang harus dipenuhi saat ini dan sifatnya tidak dapat ditunda-tunda dalam pemenuhannya karena dapat mempengaruhi kelangsungan hidup. Contohnya: obat-obatan bagi orang sakit, makanan bagi orang yang kelaparan, dan lain-lain.
b.  Kebutuhan akan datang, adalah kebutuhan yang pemenuhannya dapat ditunda guna memenuhi kebutuhan yang akan datang/masa depan. Contohnya: menabung, ikut program asuransi dan lain-lain.

D. Pemanfaatan Sumber Daya Untuk Memenuhi Kebutuhan Hidup
Karena kebutuhan manusia semakin banyak dan beraneka ragam, maka diperlukan alat pemuas kebutuhan yang berupa barang dan jasa. Untuk menghasilkan barang dan jasa, manusia harus memanfaatkan dan mengolah sumber daya yang ada dengan baik dan benar.
1.  Macam-macam barang
a.  Barang menurut proses pembuatannya, dibedakan menjadi:

1)  Barang mentah, yaitu bahan baku atau bahan dasar yang diproses menjadi barang setengah jadi atau barang jadi. Misalnya: kapas, kedelai, getah karet.
2)  Barang setengah jadi, yaitu barang yang diproses lebih lanjut untuk dijadikan barang jadi atau siap pakai, misalnya benang.
3)  Barang jadi, yaitu barang yang sudah siap untuk digunakan atau dikonsumsi. Misalnya: sepatu, mobil, televisi/tape.

b.  Barang menurut tujuan penggunaannya, dibedakan menjadi:

1)  Barang konsumen, yaitu barang yang dihasilkan untuk langsung dikonsumsi manusia. Misalnya: perabot rumah tangga, makanan atau minuman, kendaraan.
2)  Barang produksi, yaitu barang yang digunakan untuk proses produksi guna menghasilkan barang lain untuk memenuhi kebutuhan manusia. Misalnya: mesin pembuat mie, mesin percetakan.

c. Barang menurut kelangkaannya, dibedakan menjadi:

1)  Barang ekonomi, yaitu barang yang terbatas jumlahnya dan untuk mendapatkannya diperlukan pengorbanan. Misalnya: makanan atau minuman, buku pelajaran, sepatu dan tas.
2)  Barang bebas, yaitu barang yang banyak jumlahnya dan sudah tersedia di alam, cara mendapatkannya tidak memakai pengorbanan. Misalnya: air laut, sinar matahari, udara.
3)  Barang illith, yaitu barang yang bermanfaat, tetapi bila berlebihan dapat membahayakan atau mendatangkan bencana. Misalnya: api waktu kebakaran, air waktu terjadi banjir.

d.  Barang menurut hubungannya dengan barang lain, dibedakan menjadi:

1)  Barang komplementer, yaitu barang yang digunakan untuk melengkapi barang lain. Misalnya: kaos kaki dengan sepatu, pasta gigi dengan sikat gigi.
2)  Barang subtitusi, yaitu barang yang digunakan untuk mengganti barang lain dan memiliki tingkat kepuasan yang sama. Misalnya: kereta api sebagai pengganti bis, ketela sebagai pengganti jagung.

e.  Barang menurut segi jaminannya, dibedakan menjadi:

1)  Barang tidak bergerak, yaitu barang yang kedudukannya tetap atau tidak dapat berpindah dan dapat dijadikan sebagai jaminan jangka panjang. Misalnya: tanah, gedung.
2)  Barang bergerak, yaitu barang kedudukannya dapat berpindah tempat dan dapat dijadikan sebagai jaminan jangka pendek. Misalnya: perhiasan, mobil, barang elektronik.

2.  Kegunaan barang
a.  Form utility (kegunaan bentuk); Dalam hal ini barang sebagai pemuas kebutuhan ditingkatkan kegunaannya dengan cara merubahnya. Misalnya: karet yang diolah lagi menjadi ban, minyak bumi yang diolah untuk dibuat karpet.
b.  Place utility (kegunaan tempat); Barang akan lebih berguna setelah dipindahkan tempatnya dari semula. Misalnya: batu dan pasir lebih berguna setelah dibawa ke tempat pembangunan.
c.  Ownership utility (kegunaan milik); Barang lebih berguna kegunaannya setelah berpindah kepemilikannya. Misalnya: kendaraan di dealer lebih berguna setelah dibeli dan digunakan seseorang.
d.  Time utility (kegunaan waktu); Barang lebih berharga kegunaannya pada saat tertentu. Misalnya: payung akan berguna pada saat musim hujan.
e.  Service utility (kegunaan pelayanan); Nilai guna jasa yang diberikan barang untuk kebutuhan manusia. Misalnya: televisi lebih berguna setelah adanya siaran.
3.  Pengolahan sumber daya
a.  Pengolahan sumber daya alam (SDA), artinya manusia memanfaatkan SDA dengan cara mengambil langsung dari alam, oleh karena itu dalam hal ini alam menjadi faktor utamanya. Sumber daya alam dibedakan menjadi:

1)  Sumber daya alam yang tidak dapat diperbarui, yaitu SDA yang sekali pakai, bila digunakan dan habis maka tidak ada penggantinya atau tidak dapat diperbaharui. Oleh sebab itu dalam pemanfaatannya harus dilakukan dengan hemat dan efisien untuk menjaga ketersediannya di alam, misalnya: minyak bumi, batu bara dan berbagai mineral.
2)  Sumber daya alam yang dapat diperbaharui, yaitu SDA yang tidak habis atau dapat diperbaharui bila sudah dipakai karena banyak terdapat di alam dan mudah didapatkannya, misalnya: sumber daya alam nabati dan hewani.
3)  Kelompok sumber daya yang selalu tersedia dalam jumlah besar, misalnya: udara, angin, air, sinar matahari, gelombang laut, dan gelombang elektromagnetik.

b.  Pengolahan Sumber daya manusia (SDM), artinya pemanfaatan SDA oleh manusia guna mencukupi kebutuhan manusia sendiri. Di mana pemanfaatannya tersebut ditentukan oleh keahlian, keterampilan, dan kemampuan yang sesuai dengan tujuannya. Misalnya: pegawai pabrik, pengajar dan lain-lain.
c.  Pengolahan sumber daya modal, yaitu tindakan manusia dalam memanfaatkan modal dalam mengatur SDA dan SDM guna menjalankan roda perekonomian. Misalnya: pengaturan uang untuk mendirikan usaha pembuatan pakaian, modal untuk berdagang, dan lain-lain.

E. Kerjasama Untuk Memenuhi Kebutuhan
Karena kebutuhan manusia beraneka ragam maka manusia tidak mampu mencukupi kebutuhannya seorang diri. Hal ini yang mendorong terciptanya kerjasama dengan manusia lain dalam rangka memenuhi kebutuhan. Dasar dari diadakan kerjasama yaitu:
1.  Kerjasama yang saling menguntungkan
Karena memiliki kelemahan serta kemampuan setiap orang berbeda, maka manusia sangat memerlukan kerjasama dengan manusia yang lain. Misalnya: Ibu Susi pandai membuat kue kering yang enak, akan tetapi ia tidak punya tempat untuk menjual kuenya di pasar. Ia menitipkan kuenya kepada Ibu Ani yang memiliki kios di pasar untuk menjualnya. Kerjasama antara Ibu Susi dengan Ibi Ani dapat disebut kerjasama yang saling menguntungkan karena melalui Ibu Ani, kue buatan Ibu Susi dapat dipasarkan dan berkat kue Ibu Susi, Ibu Ani dapat memperoleh keuntungan dari menjual kue kering tanpa harus mengeluarkan pengorbanan dalam membuatnya.
2.  Kerjasama untuk kepentingan bersama
Kerjasama ini banyak terjadi dalam kehidupan masyarakat. Yang berhubungan dengan sosial kemasyarakatan misalnya kegiatan gotong royong, kegiatan kebersihan lingkungan dan sebagainya. Dan yang berkaitan dengan ekonomi, misalnya adanya istilah bapak angkat yaitu perusahaan besar yang memberikan bimbingan, pengarahan dalam kegiatan produksi dan pemasaran, serta bantuan modal agar dapat berkembang dan akhirnya mampu berdiri sendiri.
3.  Kerjasama yang saling menghormati
Manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya tidak boleh menghalalkan segala cara, karena dalam pemenuhan kebutuhannya tersebut dibatasi dengan norma-norma yang berlaku. Manusia harus berpikir dengan baik dan sehat dalam berbuat atau bertindak agar dapat memahami akan kebutuhan hidupnya dan kebutuhan dari orang lain. Misalnya: saat terjadi kelangkaan pupuk para petani mengalami kebingungan karena selain langka, harga pupuk juga tinggi. Tanpa pupuk bisa jadi tanaman pertanian terancam gagal panen. Oleh sebab itu para petani membentuk suatu kelompok tani dan melakukan koordinasi untuk mengatasi kebutuhan akan pupuk ini. Dari agen resmi penjualan pupuk, kelompok tani tersebut membeli pupuk sesuai dengan kebutuhan para petani anggota. Kemudian dari pupuk yang dibeli tersebut disalurkan kepada petani anggota dengan adil sesuai kebutuhan petani dan harganya disesuaikan dengan harga agen. Kerjasama para petani yang tergabung dalam kelompok tani ini merupakan kerjasama saling menghormati, dan hal ini penting dilakukan agar tidak terjadi perselisihan antarpetani.

No comments: