Pages

Wednesday, July 10, 2013

Perkembangan Kerajaan Hindu-Budha


Masuknya ajaran Hindu-Budha ke tanah air selain berpengaruh dalam pola kehidupan masyarakat Indonesia, juga sangat berpengaruh dalam tata pemerintahan ketika itu. Pengaruh kerajaan-kerajaan di India yang menerapkan sistem keturunan dalam pergantian raja, mulai diterapkan di kerajaan-kerajaan tanah air yang sudah dipengaruhi ajaran Hindu ataupun Budha. Beberapa kerajaan Hindu dan Budha yang pernah berdiri di Indonesia adalah : 
1.   Kerajaan Kutai
Kutai merupakan kerajaan tertua yang pernah tercatat dalam sejarah Indonesia. Berdasarkan sumber-sumber sejarah yang ditemukan, Kerajaan Kutai berkembang di tepi Sungai Mahakam, Kalimantan Timur. Kerajaan Kutai berdiri sekitar abad 4 M. Sumber sejarah Kutai adalah prasasti yang berbentuk Yupa atau tugu batu bertulis dengan huruf Pallawa dan berbahasa Sansekerta. Prasasti tersebut menjelaskan: Silsilah Raja Mulawarman; Kemuliaan Raja Mulawarman; dan hadiah Mulawaman pada para Brahmana. Raja pertama kerajaan Kutai adalah Kudungga, yang memiliki putra yang bernama Asmawarman. Dan Asmawarman memiliki putra yang bernama Mulawarman. Keluarga Kudungga pernah melakukan upacara Vratyastoma, yaitu upacara Hindu untuk penyucian diri sebagai syarat masuk pada kasta ksatria.
Raja yang termasyhur adalah Raja Mulawarman. Ia adalah penganut agama Hindu Syiwa. Tempat sucinya dinamakan Waprakeswara. Mulawarman pernah mengadakan kurban emas dan 20.000 ekor lembu untuk Brahmana.
2.   Kerajaan Tarumanegara
Kerajaan Tarumanegara berkembang di tepi Sungai Citarum, sekitar kota Bogor, Jawa Barat sekitar abad 5 M. Kerajaan Tarumanegara mengalami kejayaan pada masa Raja Purnawarman. Adapun sumber sejarah Tarumanegara diperoleh dari prasasti dan berita Cina, yaitu sebagai berikut:
-     Prasasti Tugu, ditemukan di Desa Tugu, Cilincing, Jakarta Utara. Menjelaskan perintah penggalian Sungai Gomati sepanjang 6122 tumbak atau ± 12 km.
-     Prasasti Lebak, ditemukan di daerah Lebak, Banten Selatan. Isinya tentang tanda keperwiraan, keagungan, dan keberanian yang sesungguh-sungguhnya dari raja dunia, yang mulia Purnawarman yang menjadi panji sekalian raja.
-     Prasasti Kebon Kopi, ditemukan di Bogor, bergambar dua tapak kaki gajah dan tulisan yang berbunyi “Inilah dua telapak kaki gajah yang seperti Airawata gajah penguasa Negeri Taruma yang gagah perkasa”.
-     Prasasti Ciaruteun, ditemukan di Bogor, bergambar dua telapak kaki manusia dan tulisan yang berbunyi “Inilah dua bekas telapak kaki, yang seperti kaki Dewa Wisnu ialah kaki yang mulia penguasa Negeri Taruma”.
-     Prasasti Jambu dan Prasasti Pasir Awi, ditemukan di Bogor.
Dari berita Cina yang ditulis oleh Fa-Hien seorang pendeta Budha dari Cina. Pada tahun 414 M terdapat kerajan yang bernama Tolomo. Dalam perjalanan menuju India, ia singgah di Yepoti (Jawa). Di Tolomo, raja memiliki kekuasaan yang besar dan dianggap sebagai keturunan dewa. Yang dimaksud Tolomo adalah Kerajaan Tarumanegara.
3.   Kerajaan Mataram Kuno
Kerajaan Mataram Kuno terletak di Jawa Tengah tepatnya di daerah Kedu sampai sekitar Prambanan. Kerajaan ini dipimpin oleh beberapa dinasti, yaitu:
a.   Dinasti Sanjaya
Kerajaan Mataram Dinasti Sanjaya terletak di Jawa Tengah yang berkuasa pada tahun 732 M. Dinasti Sanjaya beragama Hindu dan berkuasa di Jawa Tengah bagian utara. Kejayaan Dinasti Sanjaya pada masa pemerintahan Raja Balitung yang menguasai Jawa Tengah dan Jawa Timur. Sumber sejarahnya antara lain:
a.   Prasasti Canggal (732M); Isinya menerangkan bahwa Raja Sanjaya mendirikan sebuah Lingga di Bukit Kunjarakunja.
b.   Prasasti Balitung (907 M); Isinya memuat silsilah Dinasti Sanjaya.
Nama raja-raja yang pernah memerintah diantaranya: Sanjaya; Panangkaran; Panunggalan; Warak; Garung; Pikatan; Kayuwangi; Watuhumalang; Balitung; Daksa; Tulodhong; dan Wawa. Peninggalan Dinasti Sanjaya meliputi; Candi Prambanan; Candi Gedong Songo; Kompleks Candi Dieng; Candi Pringapus; dan Candi Selogiri.
b.   Dinasti Syailendra
Kerajaan Mataran Dinasti Syailendra letaknya di Jawa Tengah bagian selatan mulai berkuasa pada tahun 778 M. Sumber sejarah:
a.   Prasasti Kalasan (778 M); Isinya menerangkan bahwa Raja Panangkaran telah membangun sebuah bangunan suci untuk Dewi Tara.
b.   Prasasti Kelurak (782 M); Isinya tentang pembuatan arca Manjusri yang terletak di sebelah utara Prambanan.
c.   Prasasti Karangtengah (824 M). Memuat tulisan yang menerangkan bahwa Raja Samaratungga mendirikan bangunan suci di Wenuwana. Para ahli menyebutkan sebagai Candi Ngawen.
Pada akhir abad ke-8, Dinasti Syailendra mulai terdesak oleh Dinasti Sanjaya di wilayah Jawa Tengah bagian Selatan. Raja-raja dari Dinasti Syailendra adalah sebagai berikut: Raja Banu; Raja Wisnu; Raja Indra; Raja Samaratungga; Raja Pramodhawardani.
Puncak kejayaan Dinasti Syailendra dicapai pada masa pemerintahan Raja Indra. Sedangkan kemunduran Dinasti Syailendra mulai terjadi pada masa pemerintahan Samaratungga.
Adapun peninggalan Dinasti Syailendra, antara lain Candi Borobudur, Candi Kalasan dan Candi Pawon, Candi Sari, Candi Sewu, Candi Ngawen.
c.   Dinasti Isyana
Dinasti Isyana berkuasa pada tahun 918 M, dinasti ini didirikan oleh Mpu Sendok dan menjadi raja Medang yang pertama (Prasasti Anjuk Ladang tahun 937 M). Dinasti ini merupakan keturunan Mpu Sendok sampai Airlangga (Prasasti Calcuta). Kerajaan ini berdiri di Jawa Timur dan sering disebut Kerajan Medang. Pada akhir pemerintahannya, Raja Airlangga membagi kerajaannya menjadi Jenggala (Singasari) dan Panjalu (Kediri). Namun, kerajaan yang bertahan adalah kerajaan Kediri. Raja Airlangga wafat pada tahun 1049. Sumber Sejarah diantaranya: Prasasti Limus; Prasasti Pucangan; Prasasti Gandha Kuti.
4.   Kerajaan Sriwijaya
Sumber sejarah Kerajaan Sriwijaya adalah prasasti serta berita dari Cina. Prasasti-prasasti yang menjadi sumber sejarah Kerajaan Sriwijaya antara lain: Prasasti Kedukan Bukit (682M); Prasasti Talang Tuo (684 M); Prasasti Telaga Batu; Prasasti Kota Kapur dan Karang Berahi (685 M); Prasasti Pallas Pasemah. Sedangkan prasasti yang ditemukan di luar negeri, antara lain Prasasti Nalanda (India) dan Prasasti Ligor (di tanah genting Kra).
Berita luar negeri yang dijadikan sumber informasi Kerajaan Sriwijaya, yaitu: Catatan I-Tsing yang menjelaskan bahwa di negeri Sriwijaya ada seribu orang pendeta yang belajar agama Budha, para pendeta Cina lainnya yang akan belajar agama Budha ke India dianjurkan untuk belajar terlebih dahulu di Sriwijaya selama satu sampai dua tahun. Para pendeta yang belajar agama Budha itu dibimbing oleh seorang guru yang bernama Sakyakirti.
Sriwijaya mencapai puncak kejayaan dimasa pemerintahan Balaputradewa. Ada pun faktor pendorong Kerajaan Sriwijaya tumbuh menjadi kerajaan maritim besar antara lain:
a.   Letaknya strategis di tepi jalur perdagangan nasional dan internasional.
b.   Sriwijaya memiliki armada laut yang kuat dan tangguh.
c.   Runtuhnya Kerajaan Funan di Vietnam Selatan, memungkinkan Sriwijaya mengembangkan kekuasaan laut.
d.   Palembang terletak di Sungai Musi, sehingga baik sekali sebagai pusat perdagangan.
Adapun faktor penyebab kemunduran Kerajaan Sriwijaya antara lain:
a.   Faktor alam; kota Palembang makin jauh dari laut, sehingga kapal-kapal dagang yang datang makin berkurang.
b.   Faktor ekonomi; Oleh karena tidak banyak kapal singgah, maka pajak sebagai sumber pendapatan juga makin berkurang.
c.   Faktor politik; Sriwijaya tidak mampu lagi mengontrol daerah kekuasaannya, sehingga daerah di bawah kekuasaannya banyak yang berusaha melepaskan diri.
d.   Faktor militer; Sriwijaya menerima serangan dari luar. Serangan itu, antara lain datang dari Kerajaan Colamandalu (India) tahun 1023 M dan 1068 M. Pasukan Kertanegara (Singasari) yang tergabung dalam Ekspedisi Pamalayu juga pernah menduduki Sriwijaya. Akhirnya pada tahun 1377 M, Sriwijaya diduduki oleh Majapahit.
Adapun peninggalan kebudayaan Kerajaan Sriwijaya antara lain: Candi Muara Takus di Bangkinang, Tampar, Riau, dan Kelompok Candi Gunung Tua di Padang Sidempuan.
5.   Kerajaan Kediri
Untuk menghindari perebutan kekuasaan di antara putra-putranya, Raja Airlangga membagi daerah kekuasaannya menjadi dua, yaitu Jenggala diserahkan kepada Garasakan dengan ibukota di Kahuripan dan Panjalu (Kediri) diserahkan kepada Samarawijaya dengan ibu kota di Daha. Akan tetapi tetap saja terjadi perang di antara kedua saudara tersebut. Peperangan itu terjadi pada tahun (1044-1052) dan dimenangkan oleh Samarawijaya dari kerajaan Panjalu.
Raja-raja yang pernah memerintah Kediri, antara lain: Jayawarsa (1104 M); Kameswara (1115 – 1130 M); Jayabaya (1130 – 1160 M); Sarweswara (1160 – 1170 M); Aryeswara (1170 – 1180 M); Sri Gandra (1181 M); Sringga (1190 – 1200 M); dan Kertajaya (1200 – 1222 M).
Ada pun karya sastra yang diciptakan pada masa Kerajaan Kediri antara lain:
a.   Bharatayudha, karya Mpu Sedah dan Mpu Panuluh, yang dikarang pada masa Jayabaya.
b.   Hariwangsa dan Gathotkacasraya karya Mpu Panuluh, yang dikarang pada masa Jayabaya.
c.   Smaradhahana karya Mpu Darmaja, yang dikarang pada masa Kameswara.
d.   Lubdhaka dan Wretasancaya karya Tan Akung, yang dikarang pada masa Kameswara.
Kerajaan Kediri mencapai masa kejayaan ketika diperintah Jayabaya. Selain sebagai pemimpin yang tangguh, Jayabaya juga pintar meramal. Kerajaan Kediri mengalami kemunduran pada masa pemerintahan Kertajaya karena serangan Ken Arok dari Tumapel (daerah kekuasaan Kediri) pada tahun 1222 dalam pertempuran di Ganter.
6.   Kerajaan Singasari
Sumber sejarah Kerajaan Singasari kitab Pararaton (yang menceritakan riwayat Ken Arok dan urutan raja-raja Singosari) dan kitab Negarakertagama yang ditulis Mpu Prapanca.
Kerajaan Singasari didirikan oleh Ken Arok yang sekaligus pendiri Dinasti Rajasa dan Dinasti Girindra. Ken Arok merupakan cikal bakal raja-raja Singosari dan Majapahit. Setelah membunuh Tunggul Ametung pada tahun 1222, Ken Arok terlibat peperangan dengan Kertajaya dari Kediri. Dalam suatu pertempuran di Genter, Kertajaya berhasil dikalahkan Ken Arok. Atas prakarsa Ken Arok, Kediri dan Tumapel digabungkan menjadi Kerajaan Singasari. Ken Arok naik tahta dengan gelar Sri Rangga Rajasa Amurwabhumi dan mempersunting Ken Dedes (istri dari Tunggul Ametung). Ken Arok meninggal dibunuh oleh Anusapati (anak Ken Dedes dengan Tunggul Ametung). Raja-raja yang pernah memerintah Kerajaan Singasari, antara lain: Ken Arok (1222 – 1227 M); Anusapati (1227 – 1248 M); Tohjaya (1248 M); Ranggawuni (1248 – 1268 M); Kertanegara (1268 – 1292 M). Singasari mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan Kertanegara.
Politik dalam negeri Kertanegara antara lain:
a.   Menggeser pembantu-pembantunya yang dianggap menghalang-halangi cita-citanya, misalnya Patih Raganatha digantikan dengan Aragani.
b.   Berbuat baik terhadap lawan-lawan politiknya, misalnya mengangkat Jayakatwang menjadi Raja Kediri.
c.   Memperkuat angkatan perang.
Politik luar negeri Kertanegara meliputi:
a.   Mengadakan Ekspedisi Pamalayu (1275 M) dan ekspedisi ke Bali (1248 M).
b.   Menguasai Jawa Barat pada tahun 1289 M.
c.   Menguasai Pahang dan Tanjungpura.
Beberapa faktor pendorong runtuhnya Singasari adalah sebagai berikut:
a.   Kertanegara terlalu memerhatikan urusan luar negeri, sehingga tidak menyadari bahaya yang datang dari dalam negeri.
b.   Singasari lemah karena banyak pasukan yang dikirim ke luar negeri.
c.   Kertanegara terlalu baik kepada musuh-musuhnya.
d.   Kekecewaan para pembantunya yang digeser.
e.   Serbuan Raja Jayakatwang (Kediri) pada tahun 1292 M.
Adapun peninggalan Kerajaan Singasari antara lain: Candi Kidal sebagai makam Anusapati di Malang; Candi Jawi di Prigen; Candi Singasari di Malang; Candi Jago sebagai makam Wisnu Wardhana; dan Patung Prajna Paramita sebagai patung perwujudan Ken Dedes.
7.   Kerajaan Majapahit
Sumber sejarah dari kerajaan Majapahit adalah prasasti (Prasasti Kudadu), kitab (Negarakertagama dan Pararaton) dan berita dari Cina (kitab Ying Yai Sheng Lan karangan Ma Huan dan catatan-catatan dalam tambo Dinasti Ming).
Setelah kerajaan Singasari runtuh akibat serangan Jayakatwang, Raden Wijaya menantu Kertanegara yang berhasil meloloskan diri dan pergi ke Madura dilindungi oleh Arya Wiraraja (Bupati Sumenep dari Madura). Beberapa tahun kemudian Raden Wijaya menyerang balik Jayakatwang dengan memanfaatkan tentara Mongol yang ingin menaklukkan Singasari. Raden Wijaya naik tahta dengan gelar Kertarajasa Jayawardhana (1293-1309 M) setelah dapat mengalahkan Singasari dan Mongol. Raja yang berkuasa setelah Raden Wijaya diantaranya Jayanegara (1309-1328M); Tribhuwanatunggadewi (1328-1350M); Hayam Wuruk (1350-1389M); Wikrama Wardhana (1389-1429M).
Pada masa pemerintahan Jayanegara, Majapahit banyak dilanda pemberontakan yang dipimpin oleh: Ranggalawe (1309 M); Lembusora (1311 M); Juru Demung (1313 M); Mandana dan Wagal (1314 M); Nambi (1316 M); Lasem dan Semi (1318 M); Kuti (1319 M). Semua pemberontakan tersebut dapat dipadamkan oleh Gajah Mada. Pada tahun 1328 Jayanegara dibunuh oleh Tanca, tabib istananya. Dan Tanca sendiri dapat dibunuh oleh Gajah Mada.
Pada masa pemerintahan Tribhuwanatunggadewi, meletus pemberontakan Sadeng dan Keta (1331 M). Berkat tindakan Gajah Mada, pemberontakan ini berhasil dipadamkan. Atas keberhasilannya ini, Gajah Mada kemudian diangkat sebagai mahapatih. Sebelum diangkat menjadi mahapatih, Gajah Mada mengucapkan sumpah yang dikenal dengan Sumpah Palapa (1333 M).
Puncak kejayaan Majapahit dicapai pada masa pemerintahan Hayam Wuruk. Majapahit dapat tampil sebagai kerajaan besar karena didorong oleh faktor-faktor sebagai berikut:
a.   Secara geografis letaknya baik, yaitu di tengah-tengah nusantara.
b.   Terletak di tepi Sungai brantas, sehingga mudah dilayari kapal-kapal.
c.   Tanahnya subur sehingga banyak menghasilkan barang/komoditas ekspor.
d.   Munculnya tokoh-tokoh negarawan, seperti Hayam Wuruk dan Gajah Mada.
Adapun faktor-faktor penyebab keruntuhan Majapahit adalah sebagai berikut:
a.   Sepeninggal Hayam Wuruk dan Gajah Mada, tidak ada lagi negarawan setangguh mereka.
b.   Perang saudara yang berkelanjutan (Perang Paregreg: perang saudara antara Bhre Wirabumi melawan Wikrama Wardhana) memperlemah Majapahit.
c.   Kemunduran ekonomi dan perdagangan.
d.   Pengaruh perkembangan agama Islam, terutama di daerah pesisir Jawa.
Hasil-hasil kebudayaan Majapahit, antara lain: Candi Panataran di Blitar; Candi Pari di Porong; Candi Tikus dekat Mojokerto; Candi Sumberjati; Candi Antahpura; Candi Rimbi.

No comments: