10 May 2014

Dukungan dan Tindakan Heroik dari Berbagai Daerah



Kemerdekaan yang diproklamasikan tanggal 17 Agustus 1945 ternyata mendapat sambutan yang luar biasa di berbagai daerah, baik di Jawa maupun luar Jawa. Berikut ini dukungan terhadap pembentukan Negara Republik Indonesia.
1.   Pernyataan dukungan dari Sri Sultan HB IX
Pada tanggal 5 September 1945, Sri Sultan HB IX mengeluarkan pernyataan yaitu:
a.   Negeri Ngayogyakarta Hadiningrat yang bersifat kerajaan adalah Daerah Istimewa dari Negara RI.
b.   Kami sebagai Kepala Daerah memegang segala kekuasaan dalam negeri Ngayogyakarta Hadiningrat dan oleh karena itu berhubung dengan keadaan pada dewasa ini segala urusan pemerintahan dalam negeri Ngayogyakarta Hadiningrat mulai saat ini berada di tangan kami dan kekuasaan-kekuasaan lainnya kami pegang seluruhnya.
c.    Hubungan antara Negeri Ngayogyakarta Hadiningrat dengan RI bersifat langsung dan kami bertanggung jawab atas negeri kami langsung kepada presiden RI.
2.   Rapat raksasa di Lapangan Ikada Jakarta
Pada tanggal 19 September 1945, rakyat Jakarta mengadakan rapat raksasa di Lapangan Ikada (Ikatan Atletik Djakarta). Dalam rapat ini dihadiri Presiden Soekarno, Wakil Presiden Moh. Hatta serta sejumlah menteri dan sekitar 200.000 orang. Dalam rapat tersebut Presiden Soekarno berpidato yang isinya:
a.    Meminta dukungan dan kepercayaan rakyat terhadap pemerintah RI.
b.    Menuntut rakyat untuk mematuhi kebijakan pemerintah dengan disiplin.
c.    Memerintahkan rakyat untuk segera bubar meninggalkan lapangan dengan tenang.
3.   Peristiwa bendera di Hotel Yamato Surabaya
Peristiwa terjadi tanggal 19 September 1945, di mana penyebabnya yaitu orang-orang Belanda mengibarkan bendera mereka di puncak Hotel Yamato. Hal tersebut memancing kemarahan rakyat Surabaya dan menyerbu hotel tersebut. Beberapa pemuda berhasil memanjat atap hotel serta menurunkan bendera Belanda yang berkibar di atasnya. Mereka merobek warna birunya dan mengibarkan kembali sebagai Merah Putih.
4.   Peristiwa di Yogyakarta
Pada tanggal 26 September 1945 terjadi perebutan kekuasaan secara serentak terhadap Jepang. Sejak pagi semua pegawai instansi pemerintah dan perusahaan yang dikuasai Jepang melaksanakan aksi mogok. Mereka memaksa agar orang-orang Jepang menyerahkan aset dan kantornya kepada orang Indonesia. Tanggal 27 September 1945 Komite Nasional Indonesia Daerah Yogyakarta mengumumkan bahwa kekuasaan di daerah tersebut telah berada di tangan Pemerintah RI.
5.   Peristiwa Heroik di tempat lain
a.    Pertempuran lima hari di Semarang yang terjadi pada tanggal 15-20 Oktober 1945. Peristiwa itu berawal ketika 400 orang veteran AL Jepang yang akan dipekerjakan untuk mengubah pabrik gula Cepiring menjadi pabrik senjata memberontak ketika akan dipindahkan ke Semarang. Tawanan-tawanan tersebut menyerang polisi Indonesia yang mengawal mereka. Situasi bertambah panas dengan meluasnya desas-desus bahwa cadangan air minum di desa Candi telah diracuni. Dr. Karyadi yang meneliti cadangan air minum tersebut meninggal ditembak oleh Jepang. Pertempuran berlangsung lima hari dan baru berhenti setelah pimpinan TKR berunding dengan pimpinan pasukan Jepang. Usaha perdamaian dipercepat dengan mendaratnya pasukan Sekutu di Semarang pada tanggal 20 Oktober 1945 yang kemudian menawan dan melucuti senjata tentara Jepang. Untuk mengenang keberanian para pemuda Semarang dalam pertempuran tersebut, maka dibangunlah Tugu Muda yang terletak di kawasan Simpang Lima, Semarang.
b.   Di Bogor, para pemuda melucuti senjata polisi Jepang, tanggal 5 September 1945 mengibarkan sang Merah Putih di atas markas pemuda revolusioner.
c.   Di Bandung, para pemuda dan pelajar Bekas PETA mengepung markas pasukan berhasil merebut 9 panser. Selain itu para pemuda dan kaum buruh merampas senjata di gudang dan pabrik senjata di Lapangan Udara Andir (sekarang Bandara Husein Sastranegara).
d.   Di Jakarta, BKR dan pemuda yang tergabung dalam badan-badan perjuangan menyerbu gudang senjata milik Jepang di Cilandak.
e.    Di Surabaya, para pemuda BKR melakukan pertempuran untuk memperebutkan gudang senjata dan pemancar radio di Embong, Malang.
f.    Di Lampung, para pemuda BKR melucuti senjata Jepang di Teluk Betung, Kalianda dan Menggala.
h.   Di Sumatra Selatan pada tanggal 8 Oktober 1945, dr. A.K. Gani memimpin seluruh pegawai Gunseibu dalam suatu upacara menaikkan bendera Merah Putih. Perebutan kekuasaan berlangsung tanpa insiden. Tentara Jepang cenderung menghindari pertempuran.
i.    Di Surakarta, rakyat mengepung markas Kampetei Jepang. Dalam pertempuran gugur seorang pemuda yang bernama Arifin.
j.    Di Aceh, perlawanan pemuda terjadi di Sigli, Langsa dan Lhokseumawe.

No comments: