12 November 2016

Konferensi Asia-Afrika (KAA)


1.   Latar belakang pembentukan Konferensi Asia-Afrika
a)   Bangsa-bangsa Asia-Afrika memiliki persamaan nasib dan sejarah yakni sama-sama menjadi sasaran penjajahan bangsa-bangsa Eropa.
b)   Semakin meningkatnya kesadaran bangsa-bangsa Asia-Afrika yang masih terjajah untuk memperoleh kemerdekaan.
c)   Perubahan politik yang terjadi setelah Perang Dunia II berakhir yakni situasi internasional diliputi kecemasan akibat adanya perlombaan senjata antara Blok Barat dan Blok Timur.
d)   Di antara bangsa-bangsa Asia yang telah merdeka masih belum terdapat kesadaran untuk bersatu, yang kemudian Rusia dan Amerika Serikat ikut melibatkan diri dalam masalah tersebut.
2.   Proses Terselenggaranya Konferensi Asia-Afrika (KAA)
a)   Konferensi Colombo (Konferensi Pancanegara I)
Konferensi Colombo dilaksanakan pada tanggal 28 April-2 Mei 1945 di Colombo, Sri Langka. Perwakilan yang hadir dalam konferensi ini yaitu Indonesia (Perdana Menteri Ali Sastroamidjoyo), India (Perdana Menteri Shri Pandit Jawarhalal Nehru), Pakistan (Perdana Menteri Mohammad Ali Jinnah), Birma/Myanmar (Perdana Menteri Unu), Srilangka (Perdana Menteri Sir John Kotelawala).
Keputusan yang dihasilkan dari Konferensi Colombo yaitu: Indocina harus dimerdekakan dari penjajahan Perancis; Menuntut kemerdekaan bagi Tunisia dan Maroko; Menyetujui dan mengusahakan adanya konferensi Asia-Afrika dan memilih Indonesia sebagai penyelenggara.
b)   Konferensi Bogor (Konferensi Pancanegara II)
Konferensi Bogor dilaksanakan pada tanggal 28-31 Desember 1954 di Bogor, Indonesia. Konferensi ini sebagai tindak lanjut dari Konferensi Colombo. Dalam konferensi ini dihadiri oleh negara-negara yang hadir dalam Konferensi Colombo.
Keputusan yang berhasil disusun dari Konferensi Bogor yaitu: Mengadakan Konferensi Asia-Afrika di Bandung dalam pada tanggal 18-24 April 1955; Menetapkan kelima negara peserta konferensi Bogor sebagai negara-negara sponsor; Menetapkan dua puluh lima negara-negara Asia-Afrika yang akan diundang; Menentukan tujuan konferensi Asia-Afrika.
c)   Pelaksanaan Konferensi Asia-Afrika
Konferensi Asia Afrika dilaksanakan pada tanggal 18-24 April 1955 di Gedung Merdeka, Kota Bandung yang dibuka oleh Presiden Soekarno. Dalam pelaksanaan dibentuk susunan kepanitiaan konferensi yaitu: Ketua (Mr. Ali Sastroamidjojo), Sekretaris Jenderal (Ruslan Abdulgani), Ketua Komite Kebudayaan (Mr. Moh. Yamin), Ketua Komite Ekonomi (Prof. Dr. Ir. Roeseno).
Dalam konferensi ini dihadiri oleh 29 negara yaitu 5 negara sponsor (Indonesia, India, Srilanka, Pakistan, Burma (Myanmar), 18 negara Asia (Filipina, Thailand, Vietnam Utara, Vietnam Selatan, Laos, Turki, Jepang, Yordania, Kamboja, Nepal, Lebanon, RRC, Afghanistan, Iran, Irak, Syria, Saudi Arabia, dan Yaman), dan 6 negara Afrika (Mesir, Sudan, Ethiopia, Libya, Liberia, dan Ghana).
Hambatan yang dialami selama konferensi diantaranya: Adanya perbedaan pandangan politik yaitu yang pro liberalis (Filipina, Muangthai, Pakistan, Iran, Turki, dan Jepang), sedang yang pro komunis (RRC dan Vietnam Utara); Adanya negara yang tidak memihak blok barat maupun blok timur (Indonesia, India, Sri Lanka, Burma, Mesir, dan Irak); Adanya negara yang belum menampakkan pandangan politiknya karena lebih mengutamakan persamaan dan solidaritas.
3.   Keputusan yang dihasilkan dalam Konferensi Asia-Afrika
a)   Memajukan kerjasama bangsa Asia-Afrika di bidang sosial, ekonomi dan kebudayaan.
b)   Membantu perjuangan menentang imperalisme (Aljazair, Tunisia, Maroko) dan mendukung tuntutan Indonesia atas Irian Barat, dan tuntutan Yaman atas Aden.
c)   Menjunjung HAM seperti tercantum dalam piagam PBB.
d)   Ikut aktif dalam perdamaian dunia.
e)   Mengakui hak bangsa Arab di Palestina dan penyelesaian masalah tersebut dengan damai.
f)   Agar negara-negara yang memenuhi syarat dapat diterima menjadi anggota PBB (Jepang, Sri Lanka, Kamboja, Laos, Vietnam Utara/Vietnam Selatan, dan Nepal).
g)   Adanya pengurangan senjata.
h)   Agar diadakan larangan (pembuatan, percobaan, dan penggunaan senjata atom).
i)    Disetujuinya prinsip-prinsip hubungan internasional dalam rangka perdamaian dunia. Dikenal dengan Dasa Sila Bandung (Declaration Bandung) yang dicantumkan dalam Declaration on The Promotion of World Peace and Cooperation. Adapun isi dari Dasa Sila Bandung adalah: Menghormati hak dasar manusia (piagam PBB); Menghormati kedaulatan semua bangsa; Mengakui persamaan ras dan persamaan bangsa; Tidak intervensi (campur tangan) kepada negara lain; Menghormati hak setiap bangsa untuk mempertahankan diri; Tidak melakukan tindakan/ancaman agresi atas kemerdekaan politik; Menyelesaikan segala perselisihan dengan jalan damai; Menghormati hukum dan kewajiban internasional.
4.   Peran Indonesia dalam KAA
a)   Indonesia ikut memprakarsai dan sebagai tempat penyelenggaraan Konferensi Pancanegara II yang berlangsung tanggal 28-31 Desember 1954 di Bogor (Jawa Barat). Konferensi ini sebagai pendahuluan dari Konferensi Asia Afrika.
b)   Indonesia ikut memprakarsai dan sebagai tempat penyelenggaraan Konferensi Asia-Afrika yang berlangsung pada tanggal 18-24 April 1955 di Gedung Merdeka Bandung.

No comments: