01 June 2015

Pemberontakan Angkatan Perang Ratu Adil (APRA)


       Pemberontakan APRA terjadi pada tanggal 23 Januari 1950 di Bandung, dipimpin oleh Kapten Raymond Westerling dan didalangi oleh Sultan Hamid II. Pemberontakan ini bertujuan untuk mengamankan kepentingan ekonomi Belanda di Indonesia serta mempertahankan bentuk federal, berdirinya negara federal, dan adanya tentara sendiri di setiap negara bagian.
Aksi pemberontakan yang dilakukan Westerling dan pasukannya diantaranya merebut tempat-tempat penting di Bandung, membunuh anggota TNI, dan menduduki markas staf Divisi Siliwangi. Selain itu menyerang kabinet RIS dan akan membunuh Sultan Hamengku Buwono IX, Sekjen Kementrian Pertahanan Mr. A. Budiardjo, dan Pejabat Kastaf Angkatan Perang Kol. TB. Simatupang namun semua itu dapat digagalkan.
Upaya penumpasan pemberontakan APRA diantaranya:
1.  Pemerintah Indonesia melancarkan operasi militer pada tanggal 24 Januari 1950.
2.  Di Jakarta, diadakan perundingan antara Drs. Moh. Hatta dengan Komisaris Tinggi Belanda. Hasilnya Mayor Engels mendesak Westerling dan pasukan APRA meninggalkan kota Bandung.
3.  Melakukan penangkapan terhadap Westerling dan Sultan Hamid II, namun Westerling berhasil melarikan diri ke Jakarta. Di Jakarta Westerling akan membunuh beberapa menteri. Karena akan ditangkap, Westerling melarikan diri dengan menumpang pesawat Catalina (milik AL Belanda).
4.  Dampak dari gerakan APRA adalah parlemen Negara Pasundan mendesak agar negara tersebut dibubarkan dan terjadi pada tanggal 27 Januari 1950.

2 comments:

hinaTa said... Balas

thankkkk youuu so mucchh.. artikel kamu sgt membantuku dlm mengerjakann tugas!!! tq so so so muchhh ok

Adlan Zaman said... Balas

@hinaTa: Sama-sama... terima kasih sudah berkunjung di blog ini...