09 June 2015

Peristiwa G 30 S/PKI dan Penumpasannya


A. Tindakan persiapan PKI
Tindakan ini dimaksudkan agar PKI memperoleh dukungan dari berbagai kalangan. Dan tindakan-tindakan PKI tersebut diantaranya: Mengirim sukarelawan dalam konfrontasi dengan Malaysia; Melakukan “aksi sepihak” tahun 1963, terutama di Jawa, Bali dan Sumatra Utara dengan membagikan tanah kepada petani; Melakukan demonstrasi, menuntut kenaikan upah di pabrik-pabrik, perusahaan, dan perkebunan; Memberikan latihan politik dan militer kepada anggota pemuda rakyat dan gerwani. PKI akhirnya menuntut pemerintah agar membentuk angkatan ke-5 yang terdiri dari buruh, petani, dan nelayan yang dipersenjatai; Menghancurkan lawan politiknya dengan jalan mendukung pemerintah untuk membubarkan Masyumi, Murba, Manikebu (Manifesto Kebudayaan); Menyebarkan isu tentang adanya Dewan Jenderal dalam Angkatan Darat yang akan mengambil alih kekuasaan secara paksa dengan bantuan Amerika Serikat.
B  Gerakan 30 September PKI
Gerakan 30 September 1965/PKI merupakan gerakan sekelompok militer yang menculik dan membunuh sejumlah perwira tinggi angkatan darat. Gerakan ini dipimpin Letkol. Untung (Komandan Batalyon I Cakrabirawa) yang dibantu oleh satu batalyon dari Divisi Diponegoro, satu batalyon dari Divisi Brawijaya, dan orang sipil dari pemuda rakyat. Setelah menculik dan membunuh para perwira tinggi angkatan darat, pada tanggal 1 Oktober 1965 PKI dapat menguasai Studio RRI Pusat dan Gedung Telekomunikasi. Letkol. Untung menyiarkan pengumuman bahwa “Gerakan 30 September” adalah gerakan kelompok militer yang bertindak untuk melindungi Presiden Soekarno dari kudeta. Kudeta itu direncanakan oleh suatu dewan yang terdiri atas jenderal-jenderal yang korup dan menikmati penghasilan tinggi serta menjadi kaki tangan CIA (Agen Rahasia Amerika).
Para korban kebiadapan PKI diangkat sebagai Pahlawan Revolusi. Berikut korban-korban keganasan PKI:
1)  Di Jakarta, para korbannya yaitu
a.  Letjen. Ahmad Yani, Men/Pangad
b.  Mayjen. S. Parman, Asisten I Men/Pangad
c.  Mayjen. R. Suprapto, Deputi II Men/Pangad
d.  Mayjen. Haryono, M.T, Deputi III Men/Pangad
e.  Brigjen. D.I. Panjaitan, Asisten IV Men/Pangad
f.  Brigjen. Sutoyo Siswomiharjo, Inspektur Kehakiman/Oditur Jenderal TNI AD
g.  Lettu. Piere Andreas Tendean, Ajudan Menko Hankam/Kepala Staf Angkatan Bersenjata
h.  Brigadir Polisi Karel Sasuit Tubun, Pengawal rumah Wakil P.M. II Dr. J. Leimena.
Para jenderal itu di bawa ke Halim, dan jenderal yang masih hidup dibunuh secara kejam. Setelah semuanya dibunuh, para korban keganasan PKI tersebut dimasukkan dalam sebuah sumur tua yang sudah tidak dipakai lagi di Lubang Buaya.
Ada satu Jenderal yang berhasil lolos dalam penculikan di Jakarta yaitu Jenderal Abdul Haris Nasution yang menjabat sebagai Menteri Kompartemen Hankam/Kepala Staf Angkatan Darat. Akan tetapi putrinya yang bernama Ade Irma Suryani tertembak oleh gerombolan penculik.
2)  Di Yogyakarta, aksi pemberontakan dipimpin oleh Mayor Mulyono. Dan korbannya yaitu:
a.  Kolonel Katamso Dharmokusumo, Komandan Korem 072 Yogyakarta
b.  Letnan Kolonel Sugiyono M., Kepala Staf Korem 072 Yogyakarta
Kedua perwira itu dibunuh di asrama Batalyon L di Desa Kentungan (di luar kota Yogyakarta).
Menghadapi situasi politik yang panas tersebut Presiden Soekarno berangkat menuju Halim Perdanakusumah, dan segera mengeluarkan perintah agar seluruh rakyat Indonesia tetap tenang dan meningkatkan kewaspadaan serta memelihara persatuan dan kesatuan bangsa. Mayor Jenderal Soeharto selaku Panglima Komando Strategis Angkatan Darat (KOSTRAD) mengambil alih komando Angkatan Darat, karena belum adanya kepastian mengenai Letnan Jenderal Ahmad Yani yang menjabat Menteri Panglima Angkatan Darat.
C. Pelaksanaan penumpasan G 30S/PKI baik di pusat maupun di daerah
1)  Tanggal 1 Oktober 1965
Operasi yang dipimpin Kolonel Sarwo Edhi Wibowo dapat merebut kembali RRI dan Kantor Telkomunikasi sekitar pukul 19.00. Selanjutnya Mayor Jenderal Soeharto selaku pimpinan sementara Angkatan Darat mengumumkan lewat RRI yang isinya sebagai berikut: Adanya usaha usaha perebutan kekuasaan oleh yang menamakan dirinya Gerakan 30 September; Telah diculiknya enam tinggi Angkatan Darat; Presiden dan Menko Hankam/Kasab dalam keadaan aman dan sehat; Kepada rakyat dianjurkan untuk tetap tenang dan waspada.
2)  Tanggal 2 Oktober 1965
Operasi RPKAD yang dipimpin Kolonel Sarwo Edhi Wibowo dan Batalyon 328 Para Kujang berhasil menguasai beberapa tempat penting dapat mengambil alih beberapa daerah termasuk daerah sekitar bandar udara Halim Perdanakusumah yang menjadi pusat kegiatan Gerakan 30 September.
3) Tanggal 3 Oktober 1965
Dalam operasi pembersihan di kampung Lubang Buaya atas petunjuk seorang anggota polisi, Ajun Brigadir Polisi Sukitman diketemukan sebuah sumur tua tempat jenazah para perwira Angkatan Darat dikuburkan. Mereka yang menjadi korban kebiadaban PKI tersebut mendapat penghargaan sebagai Pahlawan Revolusi.
4)  Tanggal 4 Oktober 1965
Mayjen Soeharto memimpin satuan amphibi (KKO) Korp Komando AL segera mengambil jenazah di sumur tua kemudian diangkut ke RSAD dan disemayamkan di Mabes AD.
5)  Tanggal 5 Oktober 1965
Bertepatan dengan HUT ABRI, dilakukan pemakaman jenazah korban G 30 S/PKI di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Sebagai Inspektur upacara adalah Jenderal AH. Nasution. Selanjutnya dilakukan upaya penumpasan dan pengejaran terhadap tokoh-tokoh PKI dan pendukungnya seperti di Jakarta, Yogyakarta, Semarang, Solo, Wonogiri, Klaten, Boyolali, Jawa Timur, dan Bali.
Untuk menumpas G 30 S/PKI di Jawa Tengah, diadakan operasi militer yang dipimpin oleh Pangdam VII, Brigadir Suryo Sumpeno. Penumpasan di Jawa Tengah memakan waktu yang lama karena daerah ini merupakan basis PKI yang cukup kuat dan sulit mengidentifikasi antara lawan dan kawan. Untuk mengikis sisa-sisa G 30 S/PKI di beberapa daerah dilakukan operasi-operasi militer berikut: Operasi Merapi di Jawa Tengah oleh RPKAD di bawah pimpinan Kolonel Sarwo Edhie Wibowo; Operasi Trisula di Blitar Selatan dilakukan Kodam VIII/Brawijaya yang dipimpin Mayjen M. Yasin dan Kolonel Witarmin; Operasi Kikis di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Usaha-usaha penangkapan tokoh-tokoh PKI yang terlibat G 30 S/PKI secara langsung atau tidak langsung, antara lain: Lettu Dul Latief ditangkap di Jakarta pada 9 Oktober 1965; Kamaruzaman, Sadisman ditangkap di Jakarta; Untung Sutopo ditangkap di Tegal pada 11 Oktober 1965; DN. Aidit ditangkap di Sambeng, Solo pada 22 November 1965. Ketika akan dibawa ke Jakarta, DN Aidit berusaha lari kemudian ditembak di daerah Boyolali); Utomo Ramelan (Walikota Solo) juga ditangkap di Solo dan dibawa ke Jakarta; Kol. Sakirman ditangkap di Semarang; Mayor Mulyono ditangkap di Yogyakarta.

No comments: