01 June 2015

Pemberontakan PKI tahun 1948


      Dampak dari hasil Perjanjian Renville, kabinet Amir Syarifuddin jatuh. Karena kecewa terhadap pemerintahan Indonesia, pada tanggal 28 Juni 1948 mendirikan Front Demokrasi Rakyat (FDR). Kekuatan semakin bertambah setelah Muso kembali dari Moskow pada tanggal 11 Agustus 1948 bergabung dengan Amir Syarifuddin. FDR segera menyusun dokrin yaitu Jalan Baru, yang berisi: PKI sejak proklamasi seharusnya sudah muncul dan berperan sebagai pemimpin revolusi; Persetujuan Renville adalah kesalahan besar yang mencelakakan dan berbau reaksioner; Kabinet Amir seharusnya tidak mengundurkan diri sebab pokok di setiap revolusi adalah kekuasaan negara; Untuk sementara perlu dibentuk Front Nasional.
FDR didukung oleh Partai Sosialis Indonesia, Pemuda Sosialis Indonesia, PKI, dan Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia (SOBSI). PKI banyak melakukan kekacauan, terutama di Surakarta. Bagi PKI, Surakarta merupakan daerah kacau (wildwest) sedang Madiun merupakan basis gerilya. Pada tanggal 18 September 1948, Muso memproklamasikan berdirinya Soviet Republik Indonesia. Selanjutnya Muso dan Amir Syarifuddin melakukan pemberontakan dibantu Suripno, Kol. Muh. Dahlan, Maruto Darusman, Kol. Joko Suyono, Oey Gie Hwat, Sarjono, Harjono, dan Katam Hadi. Aksi ini dapat menguasai Madiun dan sekitarnya (Blora, Rembang, Pati, Kudus, Purwadadi, Ponorogo, dan Trenggalek). Tujuannya untuk meruntuhkan RI serta Pancasila dan akan menggantinya dengan negara komunis.
Panglima Jenderal Sudirman segera memerintahkan kepada Kolonel Gatot Soebroto di Jawa Tengah dan Kolonel Soengkono di Jawa Timur agar mengerahkan kekuatan TNI dan polisi untuk menumpas pemberontak PKI. Dalam penumpasan PKI ini banyak tokoh yang membantu seperti Mayor Yono Sewoyo, Surahmad, Mayor Sabarudin, Letkol Sabidin, Sabirin Mochtar, Sunaryadi dan Achmad-Wiranatakusumah.
Bersama rakyat, Madiun dapat direbut tentara RI pada tanggal 30 September 1948. Pada tanggal 31 September 1948, Muso tertembak mati sedang tokoh PKI seperti Aidit melarikan diri ke Cina dan Lukman melarikan diri ke Vietnam.
Pada akhir November 1948, Amir Syarifuddin tertangkap di hutan Ngrambe, Grobogan Purwodadi bersama Suripno, Haryono dan anak buahnya. Kemudian, pada tanggal 4 Desember 1948, Amir Syarifuddin dan kawan-kawannya dibawa ke Yogyakarta kemudian dibawa ke Surakarta. Amir Syarifuddin dihukum mati pada tanggal 19 Desember 1948.

No comments: